Maksud dari pertemuan tersebut adalah Sultan Ternate ingin menjadikan semua wilayah di Maluku berada di bawah kekuasaan Ternate, dan setiap wilayah yang bergabung harus membayar upeti. Semua pemimpin setuju kecuali Raja Kapahaha.
Sebagai wujud penolakan Raja Kapahaha, ia mengirim upeti kepada Sultan Ternate yang ternyata berisi mayat bayi. Sultan pun memerintahkan pengawalnya untuk menanam (memakamkan) mayat bayi tersebut di depan Keraton.
Beberapa tahun kemudian terjadi keanehan pada makam tersebut karena pada dua batu nisannya tumbuh dua tanaman yang saat ini dikenal sebagai tanaman cengkeh. Demikian dilansir Okezone dari berbagai sumber.
(Santi Andriani)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.