Adanya efek samping yang timbul, terkadang pemberian obat juga dilakukan untuk mengatasinya. Contoh, kemoterapi menyebabkan penurunan sel darah putih. Padahal sel darah putih berguna untuk melawan infeksi. Maka untuk mengatasinya, pasien diberikan antibiotik untuk memastikan mereka tidak terkena infeksi.
Dilansir dari NZ Herald, Jumat (16/1/2017), dikatakan para ilmuwan terus berupaya untuk menemukan obat kemoterapi yang lebih baik dan lebih aman. Dengan belajar lebih banyak mengenai biologi penyebab kanker, diharapkan bisa ditemukan sasaran dalam sel kanker yang tidak ditemukan pada sel normal. Sehingga para ilmuwan menargetkan untuk bisa menciptakan obat-obatan yang bebas dari efek samping.
Para ilmuwan juga berusaha bekerja lebih baik untuk menciptakan obat-obatan yang digunakan untuk kemoterapi. Seperti memasukkan formulasi nanopartikel atau melampirkan molekul penargetan ke obat-obatan. Dengan begitu, obat kemoterapi dapat membedakan sel kanker dan sel normal.
Saat ini, obat kemoterapi yang digunakan pada pasien penderita kanker hanya berdasarkan lokasinya. Di masa yang akan datang, ilmuwan berusaha mengembangkan metode untuk memilih kombinasi obat yang lebih mungkin bekerja berdasarkan profil genetik sel kanker pasien. Perawatan semacam itu lebih mungkin efektif dan memiliki lebih sedikit efek samping.
(Helmi Ade Saputra)