KANKER paru-paru di Indonesia terbilang cukup tinggi. Sebagian besar yang menderita penyakit ini adalah mereka yang merokok.
Umumnya kanker ini tidak bisa dideteksi sejak awal. Pasien terdeteksi terkena kanker paru-paru saat stadium IV/lanjut sehingga tindakan bedah sudah tidak bisa dilakukan. Pasien harus menjalani serangkaian pengobatan.
Pengobatan lini pertama pasien kanker paru-paru ada beberapa pilihan yaitu kemoterapi, targeted therapy, dan kombinasi kemoterapi dengan radioterapi. Pengobatan lini pertama pada pasien kanker paru-paru bisa berbeda antara satu dengan yang lainnya, tergantung dari jenis dan marker molekulernya. Jika sudah dilakukan pengobatan lini pertama namun tumor malah membesar, maka pengobatan harus diganti dengan terapi lini kedua.
Terapi lini kedua untuk pasien kanker paru-paru yang baru-baru ini masuk ke Indonesia adalah imunoterapi. Terapi ini menghambat interaksi antara sel T dengan tumor sehingga sel T bisa mendeteksi dan membasmi sel-sel kanker. Hal inilah yang membuat pasien dengan pengobatan imunoterapi bisa bertahan hidup lebih lama.
Imunoterapi diberikan setiap tiga minggu sekali selama enam siklus. Setiap enam siklus, imunoterapi akan dievaluasi. Apabila imunoterapi menunjukkan hasil yang baik, terapi bisa dilanjutkan. Imunoterapi diberikan melalui infus sehingga pasien tidak perlu dirawat.
Karena sifatnya yang bisa meningkatkan imunitas, imunoterapi bisa menyebabkan terjadinya auto imun. Efek samping lain yang bisa terjadi adalah peradangan di paru. Namun, kedua efek samping ini jarang terjadi. Bila terjadi efek samping, harus dihentikan pemberian obat karena yang utama adalah keselamatan pasien.
Di Indonesia, obat yang sudah diisetujui oleh BPOM untuk imunoterapi adalah Pembrolizumab. Obat ini dikeluarkan oleh MSD Indonesia untuk mengobati kanker paru karsinoma bukan sel kecil (KPKBSK) dengan stadium lanjut PD-L1 positif. Dari hasil penelitian, pemberian obat ini bisa menyebabkan kurangnya nafsu makan, mual, dan ruam kulit. Tapi, Pembrolizumab memiliki efek samping yang lebih rendah dibanding kemoterapi.
Sayangnya, saat ini di Indonesia imunoterapi masih menjadi terapi lini kedua. Sedangkan di FDA imunoterapi sudah dijadikan terapi lini pertama bagi penderita yang memiliki ekspresi PD-L1 lebih dari 50%. Menurut dokter spesialis paru, dr. Sita Laksmi Andarini, Sp.P(K), Ph.D, standard pengobatan kanker di Indonesia masih kemoterapi.
“Mengapa tidak dijadikan first line karena kami tidak bisa juga menyalahi aturan dari BPOM. Kami masih menunggu. Mungkin apabila diajukan kembali sebagai first line baru bisa diikuti,” ujar dr Sita saat ditemui dalam sebuah seminar media, Jumat (16/6/2017).
Mendeteksi dini kanker paru-paru memang lebih sullit untuk dilakukan. Hal ini dikarenakan di dalam paru-paru tidak ada persyarafan yang membuat nyeri. Maka, kanker paru-paru bisa dideteksi jika melakukan check up dan biasanya jika ketahuan sudah stadium lanjut. Ada baiknya mereka yang memiliki risiko tinggi (perokok) dan gejala gangguan respirasi melakukan pengecekan rutin setiap satu tahun sekali.
Tetapi yang namanya mencegah selalu lebih baik dari mengobati. Maka, hindarilah faktor-faktor yang bisa menyebabkan risiko terkena kanker paru-paru seperti berhenti merokok. Orang yang sudah berhenti merokok selama 20 tahun, risiko terkena kanker paru-parunya sama dengan mereka yang tidak merokok.
(Helmi Ade Saputra)