BERDZIKIR adalah salah satu cara seorang hamba untuk mengingat segala kebaikan-Nya. Ketika berdzikir hendaknya selalu dalam keadaan suka sebagaimana Anda mengingat seseorang yang dicintai dan memujinya, begitulah ketika bertasbih menyebut nama-Nya.
Selain itu, juga ada ketentuan dimana Allah subhanallohu wata’ala menyukai hambaNya yang bertasbih dengan jumlah yang ganjil yakni 33 dengan kelipatannya. Maka pada zaman Nabi, Rasulullah memulai serangkaian dzikir dengan ruas jari tangan kanannya.
Kemudian, lambat laun umatnya menemukan cara baru untuk menggunakan media kerikil dan biji-bijian untuk dijadikan tasbih. Ini berawal saat Rasulullah menemui seorang wanita dan di sekitar wanita itu terdapat banyak kerikil dan biji-bijian lantas Beliau memberitahu keutamaan keduanya untuk dipakai untuk berbagai macam dzikir melantangkan asma Allah.
Hal tersebut diriwayatkan dalam hadits Abu Daud, At Tirmidzi, An Nasa’i, Ibnu Hibban, dan Al Hakim, “Bahwa dia (Sa’ad) bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam masuk menemui seorang wanita, dan dihadapan wnaita itu terdapat biji-bijian atau kerikil. Lalu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Maukah kau aku beritahu dengan yang lebih mudah bagimu dari ini atau lebih utama? (Lalu nabi menyebutkan macam-macam dzikir yang tertulis)”
Banyak yang memiliki pendapat akan pemakaian ronce dari kerikil atau biji-bijian ini untuk tasbih. Namun dapat diambil hikmahnya bahwa selama tasbih itu hanya digunakan untuk media sebagai penyampaian dzikir kepada Allah bukan sebagai tujuan doa maka itu diperbolehkan.