"Bengkoknya masih ada sampek saat ini. Dokumennya dititipkan di Desa Pacet. Selain itu ada makam desa yang jumlanya sangat banyak. Ini membuktikan bahwa di sini dahulu ada koloni atau sekelompok warga yang hidup dan diatur dalam sebuah pemerintahan," imbuhnya.
Supardi lantas bertutur, hilangnya nama Sendi dari wilayah Kabupaten Mojokerto ini, bukan tanpa sebab. Dari cerita turun temurun, dahulunya Kawasan Sendi merupakan tempat pejuang kemerdekaan. Berada di pertemuan lereng gunung yang menghubungkan 5 kabupaten, yakni Jombang, Malang, Batu serta Pasuruan menjadi lokasi paling strategis bagi para gerilyawan.
"Ceritanya sangat panjang. Tahun 1942 Desa sendi dijadikan tempat bersembunyi oleh tentara republik (pejuang kemerdekaan). Puncaknya pada Agresi Militer Belanda ke-II tahun 1948, Sendi diserang habis-habisan. Semua warganya kabur," imbuhnya.
Dijadikannya Kawasan Sendi sebagai tempat persembunyian, membuat warga lokal di wilayah tersebut memilih mengungsi. Mereka meninggalkan desa dan pindah ke desa-desa tetangga. Ada yang memilih ke Dusun Ngeprih, Desa Pacet, Desa Cempokolimo, Desa Padusan, serta Desa Sajen.
"Ketika itu, lokasi ini dibombardir dan dibumihanguskan sama Belanda. Karena menjadi markas tentara pejuang. Tidak ada satupun benda berharga yang bisa diselamatkan. Termasuk bukti-bukti kepemilikan lahan milik warga, semuanya hangus terbakar," ungkap bapak dua anak ini.
Selama beberapa tahun mengungsi, membuat penduduk asli Kawasan Sendi enggan kembali ke lokasi itu. Tidak adanya barang berharga yang bisa diselamatkan pasca lokasi tersebut digempur habis-habisan oleh pasukan Belanda, hampir mayoritas warga memilih tinggal di daerah pengungsian.