Pengurus Lembaga Rabithah Alawiyah Pontianak Ali Riza Haddad mengatakan pihaknya secara swadaya berinisiatif memugar makam tersebut lantaran kondisinya yang sudah rusak. "Ini murni swadaya dari kita sebagai penghormatan terhadap seorang ulama besar," katanya.
Menurut Ali Riza, pemugaran makam mulai dilakukan pada Rabu 22 Maret 2017 dengan mengganti sejumlah bagian bangunan yang sudah rusak. "Maklum, makam ini sudah ada sejak 30 Desember 1798 Masehi. Wajar kalau perlu peremajaan. Namun bahan yang terbuat dari kayu jenis belian dengan kondisi masih bagus akan tetap dipertahankan. Ini situs sejarah," ucapnya.
Hasil penelusuran silsilah keluarga, terungkap bahwa Sayid Syarif Hamid adalah seorang ulama kelahiran Kota Tarim, Hadramaut. Di usia muda, Sayid Syarif Hamid telah meninggalkan tanah Hadramaut mengembara ke jazirah Timur Jauh, hingga sampai Pantai Barat Kalimantan.
Pada suatu masanya, Sayid Syarif Hamid dinikahkan oleh Habib Husin dengan anak bungsunya, bernama Syarifah Nur al-Qadrie. Di dalam ikatan pernikahan itu, mereka dikarunia dua anak bernama Pangeran Syarif Syaikh dan Syarifah Fathimah.
Sayid Syarif Hamid sepeninggal Tuan Besar Mempawah (sekarang menjadi nama kabupaten Mempawah) memiliki peran penting di tengah keluarga al-Qadri, hingga tercatat dalam sejarah tentang keterlibatannya dalam perencanaan pembangunan negeri baru, bernama Pontianak.