Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Mengintip Kisah Gereja Sion, Salah Satu Gereja Tertua di Indonesia

Tentry Yudvi , Jurnalis-Jum'at, 24 Februari 2017 |10:20 WIB
Mengintip Kisah Gereja Sion, Salah Satu Gereja Tertua di Indonesia
Gereja Sion, Jakarta (foto: Tentry Yudvi/Okezone)
A
A
A

MENELUSURI Jalan Pangeran Jayakarta berasa seperti kembali ke masa kolonial, karena ada gedung gereja tertua yang berada di ujung jalan. Ialah Gereja Sion, yang sudah berusia 300 tahunan.

Dari luar bangunan terlihat sekali jika gedung ini merupakan salah satu sisa penjajahan Belanda di mana terlihat dari jendela besar berbentuk setengah bundar, dan gedung megah bercat usang. Masih sangat terasa suasana kolonialnya.

Di area depan, tepatnya bagian taman ternyata ada sebuah kuburan Belanda yang masih tersisa, dan dipelihara di sana. Prasasti itu merupakan Gubernur Jendral Henric Zwaardecroon di tahun 1667.

Kemudian saat masuk ke dalam suasan penjajahan semakin terasa dari hall dan fondasi yang besar-besar. Bangku-bangku kayu lama pun bisa terlihat ketika memasuki ruangan, begitu luas biasa indahnya sisa sejarah ini.

Berdasarkan penuturan Yahya G Poceratu, yang bekerja sebagai Balai Pelestarian Budaya Cagar Budaya Serang dari Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia, semua ornamen dan bangku di dalam gereja masih asli seperti waktu gereja dibangun.

"Tidak hanya bangku, ada mimbar, kursi majelis, cawan, dan kursi panjang itu semua masih sama dan tidak ada yang diganti," tutur Yahya kepada Okezone.

Jadi sejarahnya, gereja ini dulunya dinamakan sebagai Portugese Buitenkerk, yang artinya "gereja Portugis di luar" (tembok kota), di tahun 1693. Sebab, dulu di dekat Jayakarta ada benteng Batavia yang sangat besar, dan di dalam tembok itu masih ada gereja Portugis yang dikuasai Belanda.

Jadi dulunya, di luar tembok itu para tawanan VOC yang menahan Portugis merasa membutuhkan gereja untuk tempat beribadah. Karena sebelum adanya gereja mereka hanya berdoa di sebuah pondok kecil dan sudah tidak mampu digunakan lagi.

Kemudian, Pieter Van Hoorn anak dari gubenur Jenderal Hindia Belanda saat itu membangu gedung megah tersebut. Setelah memakan waktu selama dua tahun, akhirnya di tahun 1695 gereja ini jadi dan digunakan untuk beribadah.

"Keunikan dari gedung ini, bisa dilihat dari fondasi yang kokoh, di mana mereka membuatnya dari 10 ribu kayu dolken (kayu bulat) karena untuk terhindar dari ancaman gempa bumi," tegasnya.

Prediksi orang Belanda itu benar saja, setelah banyak mengalami gempa bumi yang mengenai kawasan Jakarta. Namun, gereja masih kokoh berdiri, bahkan tidak ada sama sekali keretakan dari dinding yang sangat kokoh dan tinggi ini.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement