Rumah Souw
Saat Anda memasuki kawasan perniagaan ada sebuah rumah tua dengan atap khas dengan ukiran Tiongkok, yang pada bagian atas batu bata ada ornamen berbentuk lancip. Pada bagian luar, pagar sudah berkarat dan cat rumah sudah usang. Kini, digunakan untuk lahan parkir para preman di sana.
Bagian atap rumah begitu menarik karena sekarang sudah jarang rumah yang memiliki atap melengkung dan lancip itu. Ternyata, di budaya Tionghoa dulu, rumah seperti itu menandakan jika pemilik rumah merupakan orang kaya raya, dan juga dipandang oleh masyarakat.
Benar saja, jika melihat sejarahnya, rumah tua usang tersebut merupakan milik keluarga kaya raya dari keluarga Souw, dan sepasang adik kakak, Souw Siauw Tjong dan Souw Siauw Keng merupakan sosok legenda di masyarakat Tionghoa saat masa penjajahan.
Souw Siauw Tjong kakak dari Souw Siauw Keng, dulunya terkenal sebagai orang paling dermawan, dengan mendirikan sekolah untuk anak-anak bumiputra di tanahnya. Tak hanya itu, di tahun 1875, ia menyumbang dana ke kelenteng Boen Tek Bio untuk melakukan pemugaran, ini juga terjadi di Kelenteng Kim Tek Le di tahun 1890.
Berkat aksi sosial dan dermawan dari Siauw Tjong, ia pun dapat juluan sebagai salah satu orang terkaya di Batavia. Kekayaan terdapat dari tanah yang dimilikinya di kawasan Paroeng Koeda, Kedawoeng Oost (Wetan), Ketapang, Tanggerang, dan Banten.
Aksi serta kekayaan itu, kemudian membuat pemerintah Belanda, memberikan gelar Luitenant de Chineezen ( Letnan orang Tionghoa), namun ditolak Siauw Tjong. Kemudian tahun 1877, Souw Siauw Tjong mendapatkan gelar Luitenant Titulair (letnan kehormatan).
Sementara sang adik, Souw Siauw Keng hanya mendapat gelar Luitenant de Chineezen di tahun 1844. Keduanya menjadi legenda hingga saat ini. Rumah tersebut mengingatkan kembali perkembangan sejarah Tionghoa di Batavia.