Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Perjalanan Panjang Ismi untuk 'Menyulap' Bekatul Menjadi Bagelen yang Lezat

Devi Setya Lestari , Jurnalis-Kamis, 15 Desember 2016 |12:25 WIB
Perjalanan Panjang Ismi untuk 'Menyulap' Bekatul Menjadi Bagelen yang Lezat
Bagelen bekatul (Foto: Instagram)
A
A
A

BAGI masyarakat Jawa istilah bekatul bukanlah hal baru. Kulit ari dari beras ini biasanya dikenal sebagai limbah dan paling bermanfaat hanya sebagai pakan ternak seperti ayam atau bebek. Tapi di tangan perempuan asal Semarang, Ismi, bekatul diolah jadi makanan yang bisa bersaing dengan makanan khas daerah.

Ditemui Okezone di Jakarta, perempuan ramah ini menceritakan pengalamannya mengolah bekatul hingga menjadi bagelen atau roti kering. Ismi sebelumnya sudah memiliki usaha bakery homemade yang memproduksi berbagai jenis rotiyang dimulai sejak 2011. Tapi seiring berjalannya waktu, perempuan ini ingin terus berinovasi dan tepat pada awal 2016 ia berinisiatif mengolah bekatul menjadi produk roti.

Ternyata semua tidak seperti yang dibayangkan Ismi, karena untuk membuat bagelen bekatul alias lentul tidak semudah membuat bagelen dengan tepung terigu.

 


“Saya awalnya sangat semangat, optimis sekali mau bikin roti pakai bekatul. Tapi pas dicoba ternyata kok sulit sekali. Proses coba-cobanya sangat lama,” kata Ismi kepada Okezone.

Perempuan ini lanjut menceritakan pengalamannya hingga menemukan resep bagelen memakan waktu hingga 3 bulan. “Pertama saya buat 100 persen pakai bekatul, itu rasanya ampun-ampunan tidak enak, keras dan saya juga ogah makannya apalagi orang. Lalu saya coba substitusi 80 persen bekatul dengan 20 persen terigu, hasilnya juga masih enggak bagus. Sampai akhirnya substitusi 60 persen terigu dan 40 persen bekatul adalah yang paling pas,” beber Ismi.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement