“Apa yang Anda lihat di acara-acara memasak di layar kaca. Saat Gordon Ramsay berteriak dan melempar makanan dengan penuh kata-kata merendahkan adalah sebuah lelucon, itu sungguhan terjadi di dapur. Bekerja 15 jam dalam sehari, enam hari dalam seminggu seolah membuat saya merasa tersiksa. Saya menganggap masa-masa awal itu adalah hari-hari paling sial dalam hidup saya,” beber Chris.
Usai melewati pendidikan panjang, kini profesinya sudah bisa dipandang bergengsi. Ia mengolah berbagai masakan, namun yang paling menarik adalah ia mengolah makanan dengan menggunakan ganja, tanaman yang dikenal sebagai bumbu namun di beberapa negara dilarang karena termasuk jenis psikotropika.
“Saya menggunakan ganja, namun dijamin Anda tidak akan merasakan ada ganja di dalamnya. Kecuali saya meminta Anda mencicipinya utuh dan percayalah itu bukan rasa yang enak,” kata Chris.
Ganja yang ditambahkan Christ juga tidak dalam jumlah banyak, ia hanya mengunakan dalam jumlah sangat kecil dan biasanya sudah diolah menjadi bahan lain seperti dijadikan campuran dalam minyak.
Beberapa menu andalan Chris adalah menu klasik dan disajikan secara terbatas hanya kepada pelanggan khsusus. Menu yang pernah dibuatnya adalah carrot confit gnocchi with cannabis-infused pea emulsion, New York strip steak with parsnip puree and a ‘medicated’ red wine reduction. Sementara untuk dessertnya Chris membuat a sticky toffee pudding with toasted coconut and pot-infused chocolate.
Chris mengungkapkan ia mengolah berbagai makanan ini tak lain karena ingin menghadirkan pengalaman bersantap yang tidak biasa. Setiap gigitan dari makanan yang disantap pelanggannya dikatakan bisa memberikan reaksi otak yang berbeda.
(Santi Andriani)