NAGARI Pariangan, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat yang dinobatkan sebagai daerah terindah di dunia versi Budget Travel, merupakan awal lahirnya suku bangsa Minangkabau yang terletak di lereng Gunung Marapi.
Salah satu ikon daerah ini adalah Masjid Tuo Ishlah. Letak masjid ini cukup strategis, sekira 50 meter dari Jalan Utama Padang Panjang - Batusangkar. Saat Okezone masuk dalam kompolek masjid tersebut ada dua orang yang sedang berada di atas atap. Keduanya sibuk mencat atap mesjid dengan warna merah bata.
Dari segi arsitektur, Masjid Tuo Ishlah memiliki bentuk yang unik, masjid ini mengadopsi gaya arsitektur dongson ala dataran tinggi Tibet, ini bisa kita lihat dari bentuk atap serta tiap sisinya yang memiliki banyak jendela, hal ini menyerupai bangunan-bangunan ala Tibet.
Dari sisi kirinya ada enam jendela begitu juga dengan sisi kanannya. Atapnya memiliki bentuk bertingkat-tingat dengan ukuran berbeda. Untuk atap terbesar ini ada empat tingkat, atap menengah ada tiga tingkat dan atap kecil ada dua tingkat.
Dindingnya berwarna coklat muda namun bagian di bawah jendela berwarna merah bata seperti atap. Masjid ini memiliki ukuran 16 x 24 meter disanggah oleh enam tonggak dalam masjid yang memiliki filosofi.
“Enam tonggak tersebut sebagai simbol rukun Islam,” tutur Tokoh Adat, Zamaludin Datuk Mangkuto, (83).
Datuk Mangkuto menjelaskan, masjid ini sudah dibangun sejak abad ke-19. Namun, dia tidak tahu pasti siapa tokoh yang menggagas masjid tersebut. "Dalam pengerjaannya disetujui oleh Tuangku Nan Barampek, yakni Tuangku Kali Bandar, Tuangku Aji Manan, Tuangku Katik Basa, dan Tuangku Labai, dengan dibantu sejumlah tukang yang dipimpin oleh Datuk Garang,” terangnya.
Datuk melanjutkan, berdasarkan cerita para pendahulu, masjid ini berdinding dan berlantai kayu, serta atapnya memakai ijuk, tapi karena termakan usia masjid tersebut telah mengalami beberapa kali perbaikan. “Sepengetahuan saya masjid ini sudah beberapa kali perbaikan dimulai dari tahun 1920, 1992 dan 1994 namun bentuk asli dari masjid ini tetap dipertahankan,” tuturnya.
Bahkan pada masa pemerintahaan Belanda di Batu Sangkar pernah mereka membantu masjid ini berupa bantuan seng yang dipasang oleh warga sekitar.
Di sekeliling masjid ini ada beberapa bangunan mirip rumah gadang Minangkabau, rumah-rumah tersebut beratap seng, sebagian berdinding bambu yang sudah disulam dengan paduan lantai papan dan ada juga yang berdinding dan berlantai semen.
“Dulu rumah-rumah yang memiliki gonjong mirip rumah gadang ini adalah surau (musala), kini sudah berubah jadi rumah warga dan ada juga yang sudah hancur,” terangnya.