PERKENALKAN Bang Jeki. Saya Aprilia. Saya istri dengan satu anak tinggal di kota A. Saya dan suami kebetulan bekerja wiraswasta. Kehidupan keluarga kami seolah mendapat tantangan. Karena suami terpaksa harus membantu orangtuanya yang terlilit utang. Nilainya mencapai ratusan juta. Jika tidak membayar bisa berurusan dengan hukum. Untuk membantu orangtuanya membayar utang, ia harus bekerja mengelola bisnis di kota B dengan orangtuanya. Artinya, ia akan mengumpulkan uang tersebut selama 1-2 tahun di kota B. Saya seolah tidak ikhlas pisah dengan suami. Tapi dalam agama saya, suami wajib membantu orangtuanya. Apa yang harus saya lakukan?
Dear Aprilia,
Apa yang Anda alami saat ini adalah sesuatu yang sangat berat untuk dijalani. Ada konflik antara keinginan untuk bersama dengan suami dan anak seperti kebanyakan keluarga, tetapi ada kasus khusus yang mengharuskan perpisahan sementara.
Dalam hal ini, dua indikator prioritas yang umumnya dipakai: derajat urgensi (terkait waktu) dan derajat kepentingan (terkait makna) menjadi relevan untuk dipertimbangkan. Kepergian suami membantu orang tuanya tentunya adalah urgen dan tidak bisa ditunda, seperti yang Anda sampaikan.
Seberapa penting masalah ini bagi keluarga Anda? Tentu dilihat dari kacamata seorang istri, keluarga inti ( merujuk pada Anda, suami dan anak sebagai keluarga) adalah yang haruslah diutamakan. Akan tetapi jika dilihat dengan lebih luas, apa yang akan dialami oleh mertua Anda jika suami tidak membantu mereka tentunya akan sangat berpengaruh pada keluarga inti Anda nantinya. Karenanya dapat disimpulkan bahwa suami pergi ke kota B membantu orangtunya adalah pilihan yang paling rasional dan diutamakan.