Mereka kemudian melancarkan agresi kedua dengan kekuatan lebih besar, dan berhasil merebut Masjid Baiturrahman serta Darul Dunia atau komplek Istana Kerajaan Aceh Darussalam.
Mereka kemudian menjadikan Koetaradja (nama Banda Aceh masa penjajahan Belanda-red) sebagai pusat pemerintahannya. Dibangunlah pusat teleponnya di area komplek istana Kerajaan Aceh yang sudah mereka kuasai.
Gedung ini sentra telepon pertama yang dibangun Pemerintah Belanda di wilayah Hindia Belanda. Sejak adanya pusat telepon ini, komunikasi jarak jauh Belanda yang semula mengandalkan telegraf beralih ke telepon.
Jaringan teleponnya tembus ke berbagai daerah sasaran pengerahan pasukan Belanda. Mulai dari Ulee Lheu, Sabang, Lamno, Meulaboh, Seulimum, Sigli, Bireun, Takengon, Lhokseumawe, Lhoksukon, Idi, Peurlak, Kuala Simpang hingga beberapa kota di Sumatera Utara seperti Medan, Tanjung Pura, Rantau Prapat, Berastagi dan Asahan.
Dalam lembaran Telefoogids complex Koetaradja alias buku petunjuk telepon yang diterbitkan Belanda pada 20 April 1933, disebutkan, tarif percakapan telepon antar kota dihitung berdasarkan tiga menit percakapan.
Sentral telepon ini sangat membantu Gubernur Militer Hindia Belanda dalam berkomunikasi dan menghadapi serangan pasukan Aceh di berbagai daerah kala itu.