Kemenkes juga berkoordinasi dengan dinas kesehatan daerah untuk memetakan kebutuhan peralatan dan obat-obatan. Data tersebut digunakan untuk menentukan jenis serta jumlah bantuan yang perlu dikirimkan ke masing-masing wilayah.
Budi menyebut pengiriman bantuan tambahan direncanakan berlangsung dalam satu hingga dua pekan ke depan. Selain fasilitas oksigen, Kemenkes menyiapkan obat-obatan untuk mendukung penanganan pasien yang mengalami gangguan pernapasan.
Budi mengatakan, kasus ISPA dan pneumonia dapat ditangani di puskesmas sesuai kondisi pasien dan penilaian tenaga medis. Karena itu, ketersediaan obat di fasilitas kesehatan tingkat pertama perlu dipastikan agar masyarakat dapat memperoleh pelayanan yang dibutuhkan.
“Obat-obatan ISPA itu ditangani di Puskesmas, harusnya selesai. Nah, itu yang sekarang sedang kita kirim obat-obatannya ke seluruh Puskesmas,” kata Budi.
Kemenkes juga memantau perkembangan kasus ISPA setiap hari melalui koordinasi dengan dinas kesehatan daerah. Pemantauan ini dilakukan bersamaan dengan pengawasan kualitas udara dan kebutuhan logistik kesehatan.
Dalam pemaparannya, Budi menyebut jumlah kasus ISPA yang sebelumnya berada di kisaran 10.000 hingga 15.000 per hari kini turun menjadi sekitar 3.000 kasus per hari.
Budi mengatakan, distribusi bantuan akan diprioritaskan ke daerah yang kualitas udaranya masuk kategori merah dan hitam. Berdasarkan pemantauan Kemenkes, jumlah kabupaten/kota dalam dua kategori tersebut turun dari 50 wilayah pada awal September menjadi 22 wilayah.
Namun, ia mengingatkan bahwa kondisi udara di sejumlah daerah masih berbahaya sehingga kesiapan fasilitas kesehatan tetap dibutuhkan. Pemerintah berharap penyediaan tabung oksigen, konsentrator oksigen, masker, dan obat-obatan dapat membantu memperkuat pelayanan bagi masyarakat yang terdampak.
(Djanti Virantika)