Kasus ISPA di Wilayah Terdampak Karhutla Tembus 306 Ribu, Kenali 6 Kelompok Rentan

Niko Prayoga , Jurnalis
Rabu 21 Oktober 2026 19:05 WIB
Ilustrasi kelompok rentan terdampak ISPA. (Foto: dok jcomp/Magnific)
Share :

JAKARTA — Kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) belakangan ini kembali menjadi perhatian serius publik. Terlebih di tengah kondisi kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang masih terjadi hingga saat ini. 

Dokter Spesialis Paru dari Divisi Infeksi Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi FKUI, Prof. Erlina Burhan dalam unggahan di akun Instagramnya menuturkan bahwa ancaman ISPA makin nyata seiring maraknya peristiwa kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di beberapa wilayah Indonesia.

“Hingga 18 Oktober 2026, Kementerian Kesehatan mencatat 306.309 kasus ISPA di wilayah terdampak kebakaran hutan dan lahan, hampir 70 ribu di antaranya dialami balita. Saya turut prihatin atas kondisi saudara-saudara kita yang terdampak,” tulis Prof. Erlina, dikutip Rabu (21/20/2026).

Ia berharap situasi lingkungan dan kualitas udara dapat segera membaik serta mengajak masyarakat untuk saling menjaga.

6 Kelompok Rentan Terhadap Gangguan ISPA

Prof. Erlina menjelaskan, masalah kesehatan yang menyerang saluran pernapasan dari hidung hingga paru-paru ini umumnya disebabkan oleh infeksi virus dan sering kali dianggap sebagai penyakit ringan biasa.

Meskipun sebagian besar orang dapat pulih dengan sendirinya, ada beberapa kelompok masyarakat yang memerlukan perlindungan ekstra karena berisiko mengalami komplikasi yang jauh lebih berat.

1. Bayi dan Balita

Anak-anak di usia balita menjadi salah satu kelompok paling rentan. Hal ini disebabkan oleh sistem kekebalan tubuh mereka yang masih dalam tahap perkembangan, sehingga belum sekuat orang dewasa dalam melawan serangan virus maupun bakteri. 

“Saluran napasnya pun masih kecil, jadi sedikit lendir atau pembengkakan saja sudah bisa membuat mereka sesak. Karena itu, ISPA yang pada orang dewasa hanya batuk-pilek, pada balita bisa berkembang jauh lebih berat,” ungkapnya.

2. Lansia

Kelompok ini masuk kelompok rentan karena seiring bertambahnya usia, daya tahan tubuh alami seseorang akan mengalami penurunan. Tak hanya sistem imun, mekanisme pertahanan fisik pada organ pernapasan juga ikut melemah, sehingga cukup rentan terkena ISPA.

“Refleks batuk dan rambut-rambut halus di saluran napas, yang bertugas mendorong virus dan bakteri keluar, juga tak lagi bekerja sekuat dulu. Akibatnya, infeksi lebih mudah turun ke paru-paru, sehingga ISPA pada lansia lebih berisiko menjadi berat,” tutur Prof. Erlina.

3. Ibu Hamil

Selama masa kehamilan, tubuh wanita secara alami mengalami penyesuaian daya tahan tubuh agar janin dapat tumbuh dengan aman. Kondisi ini membuat ibu hamil lebih mudah terpapar infeksi. Di sisi lain, perubahan fisik juga memberi tekanan tersendiri pada fungsi pernapasan.

“Di saat yang sama, rahim yang membesar mendesak ruang paru-paru, padahal kebutuhan oksigen justru meningkat. Karena itu, ISPA lebih mudah membuat ibu sesak, dan dampaknya bisa ikut dirasakan janin,” ungkapnya.

4. Perokok Aktif maupun Pasif

Paparan asap rokok terbukti merusak struktur alami saluran pernapasan. Zat kimia dalam asap rokok melumpuhkan bulu-bulu getar (silia) di saluran napas serta melemahkan sel-sel imun paru.

“Akibatnya, infeksi lebih mudah masuk dan bertahan. Risiko ini juga mengintai orang di sekitar perokok, terutama anak-anak yang menghirup asap rokok di rumah,” cetus Prof. Erlina.

5. Penderita Penyakit Kronis

Pada penderita asma dan PPOK, ISPA dengan mudah memicu kekambuhan karena peradangan saluran napas yang sudah ada sebelumnya. Sementara pada penderita diabetes, kadar gula darah yang tinggi memperlemah sistem imun.

“Sementara pada penyakit jantung, ISPA memicu peradangan dan menurunkan kadar oksigen, sehingga jantung dipaksa bekerja lebih keras, bahkan bisa berujung serangan jantung,” ucapnya.

6. Pekerja Luar Ruangan dan Warga Terdampak Polusi Udara

Kelompok ini masuk ke dalam kelompok rentan karena paparan polusi udara dalam durasi panjang. Seperti yang dialami pekerja luar ruangan atau warga yang bermukim di pinggir jalan raya serta kawasan industri, memperbesar risiko ISPA. Partikel halus polutan merusak lapisan pelindung saluran pernapasan dan melemahkan daya tahan paru-paru.

“Terakhir, mereka yang setiap hari terpapar polusi udara dalam waktu lama, seperti pekerja di luar ruangan serta warga yang tinggal dekat jalan raya atau kawasan industri. Partikel halus dalam polusi ini merusak lapisan pelindung saluran napas dan melemahkan sel imun di paru-paru. Akibatnya, virus dan bakteri lebih mudah masuk dan menimbulkan infeksi,” tuturnya.

(Agustina Wulandari )

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Women lainnya