Ketika bakteri Salmonella masuk melalui makanan yang terkontaminasi, bakteri dapat menginfeksi saluran pencernaan dan menimbulkan peradangan. Pada sebagian orang, infeksi menyebabkan gangguan pencernaan yang dapat pulih dengan perawatan yang sesuai.
Namun, pada bayi baru lahir, infeksi berpotensi menyebar ke luar saluran pencernaan dan menyebabkan komplikasi yang lebih berat. Ada beberapa risiko yang perlu diwaspadai.
Pertama, infeksi saluran pencernaan Bakteri dapat menyebabkan diare, muntah, dan demam. Gejala-gejala tersebut berisiko membuat bayi kehilangan cairan dan mengalami dehidrasi.
Kedua, dehidrasi. Bayi memiliki cadangan cairan tubuh yang terbatas. Kehilangan cairan akibat diare atau muntah dapat dengan cepat mengganggu keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh.
Ketiga, sepsis. Dalam kondisi tertentu, infeksi bakteri dapat masuk ke aliran darah dan memicu sepsis, yaitu respons tubuh terhadap infeksi yang dapat menyebabkan gangguan fungsi organ. Sepsis merupakan kondisi darurat medis yang membutuhkan penanganan segera.
Keempat, infeksi berat yang menyebar. Pada bayi baru lahir, infeksi bakteri tertentu dapat menyebar ke bagian tubuh lain. Risiko komplikasi bergantung pada jenis bakteri, kondisi bayi, serta kecepatan penanganan medis.
Meski demikian, komplikasi tersebut merupakan risiko yang mungkin terjadi pada infeksi berat, bukan bukti bahwa semuanya dialami Alena. Diagnosis dan penyebab kematian seorang pasien harus merujuk pada keterangan medis yang berwenang.
“Pada bayi berusia di bawah enam bulan, pemberian makanan selain ASI eksklusif umumnya belum dianjurkan. Jika bayi mengonsumsi telur mentah yang terkontaminasi bakteri Salmonella, ia berisiko mengalami infeksi saluran pencernaan,” jelas dr. Atika.
“Dalam kondisi tertentu, infeksi tersebut dapat berkembang menjadi kondisi yang lebih serius, seperti sepsis, yaitu kondisi ketika respons tubuh terhadap infeksi menyebabkan gangguan fungsi organ dan dapat mengancam nyawa,” lanjutnya.
dr. Atika juga mengatakan, ada pula istilah intususepsi atau intussusception dalam daftar bahaya pemberian telur mentah kepada bayi. Kondisi ini terjadi ketika satu bagian usus masuk ke bagian usus lain, sehingga dapat menyebabkan sumbatan.
Intususepsi dapat menimbulkan gejala seperti nyeri perut hebat yang datang berulang, muntah, perut membuncit, dan tinja bercampur darah. Kondisi ini membutuhkan pemeriksaan serta penanganan medis segera.
Namun, penting untuk meluruskan bahwa intususepsi bukan komplikasi yang lazim atau terbukti secara langsung disebabkan oleh konsumsi telur mentah. Kondisi tersebut memiliki berbagai faktor penyebab dan perlu dibedakan dari infeksi Salmonella.
“Selain itu, terdapat kondisi yang disebut intususepsi, yaitu ketika satu bagian usus masuk ke bagian usus lainnya sehingga dapat menyebabkan sumbatan. Kondisi ini bisa memerlukan tindakan medis, termasuk operasi,” tutur dr. Atika.
“Namun, intususepsi bukan komplikasi yang terbukti secara langsung disebabkan oleh konsumsi telur mentah. Risiko yang lebih dikenal dari telur mentah adalah infeksi bakteri, termasuk Salmonella,” sambungnya.
“Karena itu, pemberian telur mentah kepada bayi, terutama yang berusia di bawah enam bulan, harus dihindari. Telur perlu dimasak hingga matang, sedangkan pemberian makanan kepada bayi harus disesuaikan dengan usia dan rekomendasi tenaga kesehatan,” lanjutnya.
Perawatan bayi tidak hanya menjadi tanggung jawab ibu dan ayah. Kakek, nenek, serta anggota keluarga lain yang terlibat dalam pengasuhan juga perlu memiliki pemahaman yang sama mengenai keamanan makanan dan penanganan penyakit.
Niat untuk membantu bayi yang sedang sakit perlu disertai pengetahuan yang benar. Praktik yang dianggap bermanfaat secara turun-temurun belum tentu aman bagi bayi, terutama bayi baru lahir.
Orangtua dapat menjelaskan kepada keluarga bahwa bayi di bawah enam bulan umumnya belum membutuhkan makanan tambahan selain ASI atau, jika diperlukan, susu formula yang sesuai berdasarkan anjuran tenaga kesehatan. Ketika bayi mengalami keluhan kesehatan, langkah paling aman adalah berkonsultasi dengan dokter, bukan memberikan makanan atau bahan tertentu tanpa rekomendasi medis.
(Djanti Virantika)