Bayi Alena Meninggal Usai Diduga Diberi Telur Mentah, Ini Bahaya Salmonella bagi Bayi

Djanti Virantika, Jurnalis
Selasa 13 Oktober 2026 21:05 WIB
Ilustrasi bayi. (Foto: Freepik)
Share :

KASUS meninggalnya Alena, bayi perempuan berusia 28 hari di Surabaya, Jawa Timur, menjadi perhatian publik. Bayi yang belum genap berusia satu bulan tersebut meninggal dunia setelah menjalani perawatan intensif di RSUD Dr. Soetomo pada Minggu 11 Oktober 2026.

Sebelum meninggal, Alena dilaporkan mengalami demam dan diduga diberi telur mentah oleh neneknya dengan alasan untuk menurunkan panas. Kondisinya kemudian memburuk hingga membutuhkan perawatan di ruang Neonatal Intensive Care Unit (NICU).

Kasus ini menjadi pengingat penting bagi orangtua dan pengasuh untuk tidak sembarangan memberikan makanan kepada bayi, terutama yang masih berusia di bawah enam bulan. Lantas, mengapa telur mentah berbahaya bagi bayi dan apa dampaknya bagi tubuh? Berikut penjelasannya.

Jika telur yang terkontaminasi dikonsumsi, bakteri tersebut dapat masuk ke saluran pencernaan dan menyebabkan infeksi yang dikenal sebagai salmonellosis. Gejala yang muncul dapat berupa diare, demam, keram perut, mual, dan muntah.

Pada bayi, infeksi perlu diwaspadai karena tubuh mereka masih rentan mengalami komplikasi, termasuk dehidrasi. Risiko ini tidak hanya berlaku bagi bayi. Orang dewasa juga dapat mengalami infeksi Salmonella setelah mengonsumsi telur mentah.

Namun, bayi baru lahir memiliki risiko lebih besar mengalami kondisi serius ketika terkena infeksi. Karena itu, telur sebaiknya dimasak hingga putih dan kuningnya matang sebelum dikonsumsi. Memasak telur dengan benar membantu mengurangi risiko infeksi bakteri.

“Bakteri Salmonella tidak hanya berpotensi ditemukan pada cangkang telur, tetapi juga di bagian dalamnya, termasuk putih dan kuning telur. Oleh karena itu, telur harus dimasak hingga matang sebelum dikonsumsi,” ujar dr. Atika.

2. Mengapa Bayi di Bawah 6 Bulan Tidak Boleh Diberi Telur Mentah?

Bayi berusia di bawah enam bulan dianjurkan mendapatkan ASI eksklusif, yakni hanya ASI tanpa tambahan makanan atau minuman lain. Kecuali, obat, vitamin, atau mineral sesuai kebutuhan medis.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), makanan pendamping ASI atau MPASI umumnya mulai diberikan ketika bayi berusia sekitar enam bulan. Pada usia tersebut, makanan tambahan diberikan secara bertahap dengan memperhatikan kebutuhan gizi, kesiapan perkembangan, serta keamanan pangan.

Memberikan telur mentah kepada bayi berusia 28 hari seperti Alena bukan praktik pemberian makan yang dianjurkan. Selain belum sesuai dengan tahap perkembangan bayi, telur mentah juga membawa risiko kontaminasi bakteri.

Pada usia tersebut, bayi masih berada dalam periode neonatal. Infeksi yang mungkin tampak ringan pada orang dewasa dapat berkembang menjadi kondisi serius pada bayi baru lahir.

Oleh sebab itu, orang tua maupun anggota keluarga yang membantu merawat bayi perlu memahami bahwa makanan atau ramuan tradisional tidak boleh diberikan begitu saja, terlebih dengan tujuan mengobati demam.

“Pada orang dewasa, konsumsi telur mentah yang terkontaminasi bakteri Salmonella dapat menimbulkan risiko gangguan kesehatan, seperti sakit perut, mual, dan muntah. Risiko ini perlu lebih diwaspadai pada bayi karena sistem kekebalan tubuhnya masih berkembang dan lebih rentan terhadap infeks,” lanjut dr. Atika.

 

3. Apa yang Terjadi pada Tubuh Bayi jika Terinfeksi Salmonella?

Ketika bakteri Salmonella masuk melalui makanan yang terkontaminasi, bakteri dapat menginfeksi saluran pencernaan dan menimbulkan peradangan. Pada sebagian orang, infeksi menyebabkan gangguan pencernaan yang dapat pulih dengan perawatan yang sesuai.

Namun, pada bayi baru lahir, infeksi berpotensi menyebar ke luar saluran pencernaan dan menyebabkan komplikasi yang lebih berat. Ada beberapa risiko yang perlu diwaspadai.

Pertama, infeksi saluran pencernaan Bakteri dapat menyebabkan diare, muntah, dan demam. Gejala-gejala tersebut berisiko membuat bayi kehilangan cairan dan mengalami dehidrasi.

Kedua, dehidrasi. Bayi memiliki cadangan cairan tubuh yang terbatas. Kehilangan cairan akibat diare atau muntah dapat dengan cepat mengganggu keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh.

Ketiga, sepsis. Dalam kondisi tertentu, infeksi bakteri dapat masuk ke aliran darah dan memicu sepsis, yaitu respons tubuh terhadap infeksi yang dapat menyebabkan gangguan fungsi organ. Sepsis merupakan kondisi darurat medis yang membutuhkan penanganan segera.

Keempat, infeksi berat yang menyebar. Pada bayi baru lahir, infeksi bakteri tertentu dapat menyebar ke bagian tubuh lain. Risiko komplikasi bergantung pada jenis bakteri, kondisi bayi, serta kecepatan penanganan medis.

Meski demikian, komplikasi tersebut merupakan risiko yang mungkin terjadi pada infeksi berat, bukan bukti bahwa semuanya dialami Alena. Diagnosis dan penyebab kematian seorang pasien harus merujuk pada keterangan medis yang berwenang.

“Pada bayi berusia di bawah enam bulan, pemberian makanan selain ASI eksklusif umumnya belum dianjurkan. Jika bayi mengonsumsi telur mentah yang terkontaminasi bakteri Salmonella, ia berisiko mengalami infeksi saluran pencernaan,” jelas dr. Atika.

“Dalam kondisi tertentu, infeksi tersebut dapat berkembang menjadi kondisi yang lebih serius, seperti sepsis, yaitu kondisi ketika respons tubuh terhadap infeksi menyebabkan gangguan fungsi organ dan dapat mengancam nyawa,” lanjutnya.

4. Apakah Telur Mentah Bisa Menyebabkan Usus Terlipat?

dr. Atika juga mengatakan, ada pula istilah intususepsi atau intussusception dalam daftar bahaya pemberian telur mentah kepada bayi. Kondisi ini terjadi ketika satu bagian usus masuk ke bagian usus lain, sehingga dapat menyebabkan sumbatan.

Intususepsi dapat menimbulkan gejala seperti nyeri perut hebat yang datang berulang, muntah, perut membuncit, dan tinja bercampur darah. Kondisi ini membutuhkan pemeriksaan serta penanganan medis segera.

Namun, penting untuk meluruskan bahwa intususepsi bukan komplikasi yang lazim atau terbukti secara langsung disebabkan oleh konsumsi telur mentah. Kondisi tersebut memiliki berbagai faktor penyebab dan perlu dibedakan dari infeksi Salmonella.

“Selain itu, terdapat kondisi yang disebut intususepsi, yaitu ketika satu bagian usus masuk ke bagian usus lainnya sehingga dapat menyebabkan sumbatan. Kondisi ini bisa memerlukan tindakan medis, termasuk operasi,” tutur dr. Atika.

“Namun, intususepsi bukan komplikasi yang terbukti secara langsung disebabkan oleh konsumsi telur mentah. Risiko yang lebih dikenal dari telur mentah adalah infeksi bakteri, termasuk Salmonella,” sambungnya.

“Karena itu, pemberian telur mentah kepada bayi, terutama yang berusia di bawah enam bulan, harus dihindari. Telur perlu dimasak hingga matang, sedangkan pemberian makanan kepada bayi harus disesuaikan dengan usia dan rekomendasi tenaga kesehatan,” lanjutnya.

5. Pentingnya Edukasi bagi Orang Tua dan Keluarga

Perawatan bayi tidak hanya menjadi tanggung jawab ibu dan ayah. Kakek, nenek, serta anggota keluarga lain yang terlibat dalam pengasuhan juga perlu memiliki pemahaman yang sama mengenai keamanan makanan dan penanganan penyakit.

Niat untuk membantu bayi yang sedang sakit perlu disertai pengetahuan yang benar. Praktik yang dianggap bermanfaat secara turun-temurun belum tentu aman bagi bayi, terutama bayi baru lahir.

Orangtua dapat menjelaskan kepada keluarga bahwa bayi di bawah enam bulan umumnya belum membutuhkan makanan tambahan selain ASI atau, jika diperlukan, susu formula yang sesuai berdasarkan anjuran tenaga kesehatan. Ketika bayi mengalami keluhan kesehatan, langkah paling aman adalah berkonsultasi dengan dokter, bukan memberikan makanan atau bahan tertentu tanpa rekomendasi medis.

(Djanti Virantika)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Women lainnya