Kecemasan hingga Depresi, Ini Masalah Kesehatan Jiwa yang Banyak Ditemukan di Indonesia

Djanti Virantika, Jurnalis
Jum'at 02 Oktober 2026 17:05 WIB
Kesehatan mental. (Foto: Freepik)
Share :

MASALAH kesehatan jiwa tak hanya dialami orang dewasa. Anak dan remaja juga menjadi perhatian seiring meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya kesehatan mental.

Lantas, apakah masalah kesehatan jiwa yang banyak ditemukan di Indonesia? Apakah gangguan kecemasan (anxiety disorder) dan depresi (depressive disorder)?

Menurut Anne, jika melihat masalah kesehatan jiwa berdasarkan diagnosis yang banyak ditemukan di Indonesia, terdapat beberapa kelompok gangguan yang perlu menjadi perhatian. Salah satunya adalah gangguan jiwa berat atau psikosis, termasuk skizofrenia.

Pada kondisi psikosis, seseorang dapat mengalami gangguan dalam menilai realitas atau reality testing. Kondisi tersebut berbeda dengan gangguan kecemasan maupun depresi yang memiliki karakteristik klinis tersendiri.

“Depresi kecemasan itu adalah hal berbeda. Tapi memang secara statistik, Indonesia itu masalah kesehatan jiwa itu yang menduduki 4 besar itu adalah gangguan jiwa besar atau psikosis atau diagnosisnya ada skizofrenia,” ujar Anne.

“Kalau kita ajak ngomong sudah enggak nyambung, enggak tahu ini siapa. Antara realitas dengan apa yang dia persepsikan itu berbeda. Nah itu gangguan jiwa berat,” lanjutnya.

2. Gangguan Kecemasan dan Depresi Termasuk Masalah yang Banyak Ditemukan

Selain psikosis, Anne menyebut gangguan kecemasan dan gangguan mood seperti depresi sebagai masalah kesehatan jiwa yang banyak ditemukan. Masalah lain yang juga disebut adalah penyalahgunaan NAPZA (Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif). Penyalahgunaan NAPZA memang dikategorikan sebagai masalah kejiwaan atau gangguan mental dalam dunia medis yang dikenal sebagai gangguan penggunaan zat atau substance use disorder.

Dengan demikian, ketika membicarakan masalah kesehatan jiwa di Indonesia, pembahasannya tidak hanya terbatas pada kecemasan dan depresi. Ada spektrum gangguan yang lebih luas dengan penyebab, faktor risiko, dan karakteristik yang berbeda.

Anne menekankan bahwa penyebab seseorang mengalami gangguan kesehatan jiwa tidak bisa disederhanakan menjadi satu faktor. Berbagai kondisi dan pengalaman dapat berperan dalam munculnya masalah kesehatan jiwa.

“Lalu kedua adalah gangguan kecemasan. Ada juga gangguan mood depresi. Yang keempat adalah penyalahgunaan NAPZA. Itu masalah tertinggi untuk diagnosis yang jadi masalah di Indonesia,” jelas Anne.

“Tapi kalau kita harus membedakan, dari penyebab sampai muncul diagnosis tersebut, kalau ditanya akar penyebab masalahnya, kombinasinya bisa muncul berapa ratus ribu. Banyak sekali memang,” sambungnya.

 

3. Stigma terhadap Psikolog dan Psikiater Mulai Berkurang

Di sisi lain, kesadaran masyarakat untuk mencari bantuan profesional juga dinilai mulai mengalami perubahan. Layanan psikologi klinis sebenarnya telah tersedia sejak lama.

Namun, menurut Anne, pemahaman masyarakat dan sosialisasi mengenai kesehatan jiwa belum selalu berjalan optimal. Salah satu tantangan yang masih dihadapi adalah stigma. Masih ada saja, respons negatif yang muncul ketika seseorang hendak menemui psikolog atau psikiater.

Bahkan, stigma terhadap orang yang mencari bantuan kesehatan jiwa terkadang dikaitkan dengan persoalan keimanan. Menurutnya, dinamika tersebut menunjukkan bahwa pemahaman mengenai kesehatan jiwa di masyarakat masih perlu terus ditingkatkan.

“Sebenarnya layanan psikologis klinis itu sudah ada sejak lama Cuma memang mungkin sosialisasinya, pemahaman masyarakat, dan stigma itu baru akhir-akhir ini membaik,” jelas Anne.

“Pada 5-10 tahun lalu deh, misalnya kita bilang saya habis ketemu psikolog nih atau ada rencana habis ini mau ketemu psikolog atau psikiater nih. Pasti akan dibilang, ‘Emang kamu kenapa?’ lalu dianggap juga ‘Ah kamu baik-baik saja, cari perhatian.’ Atau yang enggak enak lagi kalau stigmanya dianggap tidak beriman, ‘Kamu tuh enggak percaya sama takdir Tuhan,’” lanjutnya.  

4. Penyebab Masalah Kesehatan Jiwa Sangat Kompleks

Meski sejumlah diagnosis banyak ditemukan, Anne mengingatkan agar masyarakat tidak terburu-buru menyimpulkan penyebab meningkatnya masalah kesehatan jiwa. Penelitian mengenai faktor penyebab masalah kesehatan jiwa pada masyarakat Indonesia juga masih perlu terus dikembangkan.

“Jadi dinamikanya memang demikian, terus terang kita belum banyak melakukan penelitian soal apa yang jadi penyebab banyak orang alami masalah kesehatan jiwa. Tapi kalau dilihat dari diagnosisnya dari 4 hal tersebut,” ucap Anne.

Karena itu, pembahasan mengenai kesehatan jiwa perlu melihat berbagai aspek, mulai dari diagnosis, faktor risiko, kondisi lingkungan, hingga faktor individual. Pada anak dan remaja, pemahaman mengenai kesehatan jiwa menjadi semakin penting.

Deteksi dan penanganan yang tepat dapat membantu mereka mendapatkan dukungan sesuai kebutuhan. Hal ini juga sekaligus mendorong masyarakat untuk melihat kesehatan mental sebagai bagian dari kesehatan secara keseluruhan.

(Djanti Virantika)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Women lainnya