BAGI sebagian wisatawan, liburan bukan cuma soal mengunjungi tempat baru. Penampilan dan foto selama traveling juga menjadi bagian penting dari perjalanan.
Hal ini melahirkan tren yang cukup unik di China. Wisatawan membeli pakaian murah khusus untuk dipakai saat liburan, berfoto di destinasi wisata, lalu membuang atau menjualnya kembali setelah pulang.
Tren tersebut dikenal sebagai disposable clothing. Istilah ini merujuk pada pakaian yang memang dibeli untuk dipakai satu atau dua kali, terutama saat traveling, sebelum akhirnya dibuang.
Dilansir dari South China Morning Post, tren ini mulai ramai di media sosial Cina pada musim panas 2026. Tagar terkait disposable clothing bahkan mencatat 6,8 juta tayangan dan 135 ribu diskusi di salah satu platform.
Pakaian yang dipilih biasanya memiliki desain yang mencolok dan cocok untuk foto. Mulai dari rok panjang, jubah, pakaian bernuansa tradisional, hingga jaket berwarna terang.
Model seperti ini memang menarik untuk dipakai di destinasi tertentu. Namun, pakaian tersebut belum tentu cocok digunakan untuk aktivitas sehari-hari setelah liburan.
Salah satu alasan tren ini menarik perhatian adalah harganya. Pakaian yang dijual umumnya dibanderol dengan harga mulai dari 10 hingga 50 yuan atau sekitar Rp20 ribuan hingga Rp100 ribuan, tergantung nilai tukar.
Seorang wisatawan bahkan mengaku membeli lima set pakaian untuk perjalanan selama tujuh hari dengan total kurang dari 200 yuan atau setara dengan Rp500 ribu. Sejak awal, ia memang tidak berencana membawa pulang pakaian tersebut.
Bagi sebagian wisatawan, cara ini dianggap praktis. Mereka tidak perlu membawa terlalu banyak pakaian dari rumah dan tidak perlu memikirkan cara menyimpan outfit yang hanya digunakan untuk momen tertentu.
Pakaian disposable clothing juga tidak selalu dipilih karena kebutuhan berpakaian. Banyak yang sengaja membeli outfit tertentu karena dianggap lebih cocok dengan lokasi wisata.
Misalnya, ada pakaian yang dirancang untuk liburan di pantai, outfit bernuansa tradisional untuk acara tertentu, hingga pakaian dengan desain yang cocok untuk destinasi alam. Setelah sesi foto selesai, pakaian tersebut kemudian bisa saja langsung dibuang. Sebagian lainnya mencoba menjual kembali melalui platform barang bekas.
Di balik kepraktisannya, tren ini ikut menyoroti masalah lain dalam industri fashion, yaitu limbah pakaian. Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP) mencatat sekitar 92 juta ton limbah tekstil dihasilkan setiap tahun. Pada 2023, hanya sekitar 8 persen serat tekstil yang berasal dari bahan daur ulang.
Masalahnya, pakaian yang sebenarnya masih bisa digunakan berpotensi berubah menjadi sampah setelah hanya dipakai beberapa kali. Semakin pendek masa pemakaian pakaian, semakin cepat pula pakaian tersebut masuk ke alur pembuangan.
UNEP juga mencatat bahwa industri tekstil membutuhkan banyak sumber daya dan menghasilkan dampak lingkungan yang besar. Karena itu, memperpanjang masa penggunaan pakaian menjadi salah satu bagian penting dalam upaya mengurangi limbah.
Bukan hanya masalah lingkungan yang menjadi perhatian. Pakaian murah dengan kualitas bahan yang rendah juga memunculkan kekhawatiran mengenai kenyamanan dan kesehatan kulit.
Media pemerintah China, People's Daily Health, melaporkan adanya keluhan konsumen terhadap pakaian jenis ini. Beberapa orang mengaku menemukan bau menyengat dan mengalami iritasi setelah mengenakannya.
Kekhawatiran tersebut berkaitan dengan kualitas bahan dan kemungkinan penggunaan zat tertentu dalam proses produksi pakaian. Namun, bukan berarti semua pakaian murah otomatis berbahaya bagi kulit.
(Djanti Virantika)