Penggunaan AC juga perlu diperhatikan saat terjadi paparan debu vulkanik. Jika menggunakan pendingin ruangan, pastikan sistem tersebut tidak memasukkan udara luar secara langsung ke dalam ruangan.
Sistem yang menggunakan sirkulasi udara dari dalam ruangan lebih sesuai untuk menjaga ruangan tetap tertutup dari udara luar yang berpotensi membawa debu. Filter AC juga perlu diperhatikan agar tidak menjadi tempat menumpuknya debu.
Kipas angin juga perlu digunakan secara hati-hati. Debu vulkanik yang telah mengendap di lantai atau berbagai permukaan rumah dapat kembali beterbangan ketika terkena embusan kipas. Partikel tersebut kemudian berpotensi terhirup oleh anak.
Karena itu, ketika kondisi rumah masih memiliki banyak debu, penggunaan kipas angin sebaiknya dipertimbangkan dengan hati-hati. Debu yang sudah masuk ke dalam rumah sebaiknya dibersihkan secara hati-hati agar tidak kembali beterbangan.
Hindari menyapu kering karena gerakan tersebut dapat mengangkat partikel debu ke udara. Pembersihan dengan metode basah dapat membantu mengurangi debu yang beterbangan. Orang tua juga sebaiknya memastikan anak tidak berada di area yang sedang dibersihkan.
“Kalau ada AC boleh, tapi kalau AC ini harus diingat AC yang memakai udara dari dalam bukan yang mengambil udara dari luar,” jelas dr. Henie.
“Terus juga kipas angin juga jangan sembarangan pakai. Karena kalau kipas angin dipakai dia akan pertama narik udara dari luar. Kedua, debu-debu yang tadi sudah turun di bawah dia akan terbang lagi dengan kipas angin,” tutupnya.
(Djanti Virantika)