JAKARTA – Debu dari luar rumah sering kali tak bisa dihindari. Apalagi ketika kualitas udara sedang buruk, terjadi kebakaran hutan, atau seperti kondisi saat ini ketika abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau menyebar ke sejumlah wilayah.
Selain menutup pintu dan jendela, sebagian orang memilih menggunakan air purifier untuk menjaga kualitas udara di dalam rumah. Namun, apakah alat ini benar-benar bisa mengurangi debu yang masuk rumah?
Jawabannya, bisa, terutama untuk partikel debu yang masih melayang di udara. Namun, air purifier tak bisa mencegah debu masuk ke rumah dan tidak otomatis menghilangkan debu yang sudah mengendap di lantai, meja, atau perabot.
Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat (EPA) menyebut air purifier portabel dapat membantu mengurangi partikel di udara. Untuk kondisi asap dan abu vulkanik, EPA juga menyarankan penggunaan air cleaner dengan filter HEPA yang ukurannya sesuai dengan ruangan.
Air purifier bekerja dengan menarik udara dari ruangan, kemudian melewatkannya melalui filter sebelum mengeluarkan kembali udara yang telah disaring.
Untuk mengurangi partikel debu, salah satu pilihan yang banyak digunakan adalah filter HEPA (high-efficiency particulate air).
Menurut EPA, filter HEPA secara teoritis mampu menghilangkan sedikitnya 99,97 persen partikel berukuran 0,3 mikron. Ukuran tersebut digunakan sebagai ukuran pengujian yang dianggap paling sulit ditangkap oleh filter, sementara partikel yang lebih besar maupun lebih kecil dapat ditangkap dengan efisiensi yang lebih tinggi.
Meski demikian, angka tersebut merupakan kemampuan filter dalam kondisi pengujian tertentu. Efektivitas sebuah air purifier di rumah juga dipengaruhi oleh ukuran ruangan, kecepatan aliran udara, kualitas perangkat, dan seberapa sering alat digunakan.
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa penggunaan air purifier dengan filter HEPA memang dapat menurunkan konsentrasi partikulat di dalam ruangan.
Salah satu penelitian yang dirangkum EPA menemukan penggunaan air purifier HEPA menghasilkan penurunan konsentrasi PM2.5 rata-rata sekitar 60 persen. Penelitian tersebut menggunakan filter HEPA portabel pada lingkungan yang terdampak asap kayu.
Penelitian lain yang dirangkum dalam laporan teknis EPA juga menemukan konsentrasi PM2.5 di rumah kelompok yang menggunakan air purifier turun sekitar 43 persen, dari rata-rata 7,4 menjadi 4,3 mikrogram per meter kubik.
Artinya, air purifier memang dapat membantu mengurangi jumlah partikel yang beredar di udara dalam ruangan. Namun, hasilnya tidak selalu sama pada setiap rumah.
Dalam kondisi erupsi Gunung Anak Krakatau, penggunaan air purifier juga dapat menjadi salah satu langkah tambahan untuk membantu menjaga udara di dalam rumah.
EPA secara khusus menyebut portable air filter dengan filter HEPA sebagai salah satu pilihan untuk membantu menghilangkan partikel dari udara ketika terjadi paparan asap atau abu vulkanik. Perangkat tersebut disarankan memiliki kemampuan menyaring udara sekitar dua hingga tiga kali volume udara ruangan per jam.
Namun, perlu dipahami bahwa air purifier bukan alat untuk mencegah abu masuk ke rumah.
Jika jendela dan pintu terus terbuka ketika abu sedang bertebaran, partikel dari luar akan terus masuk. Akibatnya, air purifier harus bekerja lebih keras dan hasil penyaringannya bisa kurang optimal.
Karena itu, penggunaan air purifier sebaiknya dibarengi dengan menutup pintu dan jendela ketika kondisi udara luar sedang dipenuhi abu.
Ini bagian yang sering disalahpahami. Air purifier bekerja terhadap partikel yang berada di udara. Sementara itu, debu yang sudah jatuh dan menempel di lantai, meja, sofa, atau permukaan lainnya tidak otomatis hilang hanya karena air purifier dinyalakan.
EPA menjelaskan bahwa banyak partikel debu yang lebih besar cenderung cepat mengendap di permukaan sehingga tidak mudah ditangkap oleh air cleaner.
Karena itu, rumah tetap perlu dibersihkan secara rutin. Namun, ketika terdapat abu vulkanik, hindari aktivitas yang justru membuat abu kembali beterbangan.
Misalnya, jangan langsung menyapu abu dalam kondisi kering. Gunakan metode pembersihan yang tidak membuat partikel kembali terangkat ke udara.
Jika tujuan utamanya adalah mengurangi debu di dalam rumah, perhatikan jenis filter yang digunakan.
Air purifier dengan filter HEPA menjadi salah satu pilihan yang dapat dipertimbangkan karena dirancang untuk menangkap partikel di udara. Selain jenis filter, perhatikan juga CADR (Clean Air Delivery Rate) dan luas ruangan yang dapat dilayani perangkat.
EPA menyebut semakin tinggi CADR, semakin banyak udara yang dapat disaring dan semakin besar pula area yang dapat dilayani. Kecepatan kipas dan lama penggunaan juga memengaruhi jumlah udara yang berhasil disaring.
Jadi, jangan hanya melihat klaim “HEPA” pada kemasan. Pastikan kapasitas perangkat sesuai dengan ukuran ruangan.
(Agustina Wulandari )