Sebaliknya, penggunaan masker N95 pada bayi dan balita perlu mempertimbangkan keamanan dan kemampuan anak menggunakannya dengan benar. Untuk kelompok usia tersebut, membatasi paparan dengan tetap berada di dalam ruangan menjadi langkah utama.
Penggunaan masker bedah berlapis atau kain lembap disebut dapat menjadi alternatif darurat jika masker standar sulit didapatkan. Khusus bagi anak penderita asma, orang tua perlu menyiagakan obat pelega napas sesuai petunjuk dokter.
Area mata dan kulit anak juga tidak boleh luput dari perhatian. Jika mata anak mengalami iritasi atau perih akibat paparan abu vulkanik, pertolongan pertama yang dapat dilakukan adalah membilasnya dengan air bersih mengalir dan tidak menguceknya.
Penggunaan lensa kontak pada remaja sebaiknya dihentikan selama berada di lingkungan yang dipenuhi abu vulkanik. Jika harus keluar rumah, lensa kontak dapat digantikan dengan kacamata pelindung. Pakaian lengan panjang juga dapat digunakan untuk mengurangi kontak langsung abu dengan kulit. Setelah beraktivitas di luar rumah, anak sebaiknya segera mandi dan berganti pakaian.
Selain perlindungan fisik, komunikasi yang tenang dari orang tua menjadi kunci agar anak tetap merasa aman dan tidak panik. Penyampaian informasi perlu disesuaikan dengan usia anak, misalnya menggunakan analogi sederhana seperti gunung yang sedang batuk untuk balita atau menjelaskan alasan secara logis bagi anak usia sekolah.