Selain faktor biologis, usia juga berkaitan dengan pengalaman seseorang dalam menghadapi berbagai paparan penyakit. Menurut dr. Fadhilah, pada usia muda, sistem imun dan pengalaman tubuh terhadap berbagai paparan belum tentu sama dengan orang yang lebih dewasa. Keragaman respons imun juga masih berkembang.
“Kemudian juga kalau usia masih muda itu kan paparan itu masih baru ya, jadi sel-sel memori antibody-nya juga masih kurang, masih kurang beragam, masih kurang banyak, jadi secara imun dia juga masih rentan,” tutur dr. Fadhilah.
Namun, hal ini bukan berarti sistem kekebalan tubuh remaja pasti lemah atau setiap remaja akan mengalami IMS. Yang perlu dipahami adalah usia muda tidak memberikan kekebalan khusus terhadap infeksi menular seksual.
Risiko tetap ada dan dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor. Di antaranya, ada aktivitas seksual, jumlah dan kondisi pasangan seksual, serta penggunaan perlindungan yang tepat.
Risiko IMS pada remaja juga tidak dapat dilepaskan dari faktor pengetahuan dan edukasi. Pada masa remaja, kemampuan kognitif dan pengambilan keputusan masih berkembang.
Di sisi lain, informasi mengenai kesehatan seksual dan reproduksi yang diterima remaja belum tentu berasal dari sumber yang benar. Hal ini juga bisa turut memberi pengaruh
“Terus secara psikologi juga fungsi kognitifnya juga masih berkembang, mungkin edukasinya juga, pengetahuannya juga masih kurang, sehingga belum tentu dia benar-benar aman. Bisa saja dia cuma hanya merasa aman karena kurang tahu atau tidak tahu, kan seperti itu,” tutup dr. Fadhilah.
(Djanti Virantika)