Remaja Bukan Berarti Kebal, Kenali Risiko Infeksi Menular Seksual di Usia Muda

Djanti Virantika, Jurnalis
Jum'at 04 September 2026 18:05 WIB
Remaja tidak kebal dengan risiko infeksi menular seksual. (Foto: Freepik)
Share :

ANGGAPAN bahwa usia muda membuat seseorang lebih kuat dan lebih kebal terhadap berbagai penyakit, termasuk infeksi menular seksual (IMS) masih kerap beredar di masyarakat saat ini. Padahal, anggapan tersebut tidak benar.

Remaja dan dewasa muda justru termasuk kelompok yang perlu mendapatkan perhatian dalam hal kesehatan seksual dan reproduksi. Apalagi, risiko besar mengintai.

1. Risiko Infeksi Menular Seksual di Usia Muda

Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi dari RS Columbia Asia BSD, dr. Fadhilah Akhdasari, Sp.OG,, dalam acara Morning Zone di Youtube Okezone menjelaskan bahwa aktivitas seksual pada usia remaja memiliki sejumlah risiko. Salah satunya adalah meningkatnya kerentanan terhadap infeksi menular seksual.

“Jadi kalau kita ngomongin mengenai bahaya, aktivitas seksual, atau kehamilan di usia remaja, itu memang kasusnya itu cenderung meningkat memang. Yang mungkin karena perubahan lingkungan yang terjadi. Tapi kalau dari sisi medis, memang tidak disarankan, karena memang banyak risikonya,” ujar dr. Fadhilah.

“Kalau aktivitas seksual dilakukan di usia muda, terutama yang perempuan, ini organ reproduksinya masih belum berkembang secara matang. Justru mereka rentan untuk terkena penyakit infeksi menular seksual,” lanjutnya.

“Terus juga secara kognitif, fungsi kognitifnya juga belum matang sehingga kalau terjadi kehamilan yang tidak direncanakan dari aktivitas seksual tersebut, maka dia belum cukup siap,” jelas dr. Fadhilah.

2. Mengapa Remaja Lebih Rentan?

Kerentanan terhadap IMS pada usia muda tidak hanya berkaitan dengan perilaku, tetapi juga dapat dipengaruhi oleh kondisi biologis organ reproduksi yang masih berkembang.

Pada perempuan remaja, misalnya, jaringan pada serviks dan vagina masih mengalami proses pematangan. Lapisan mukosa yang melindungi saluran reproduksi dapat lebih rentan mengalami iritasi atau luka.

“Justru kasus infeksi menular seksual ini yang paling rentan itu adalah justru di usia remaja atau di awal usia 20-an. Justru dari WHO, angka kejadiannya itu paling tinggi di usia 20-an awal karena memang secara biologis dan secara psikologis itu masih rentan,” jelas dr. Fadhilah.

“Kalau faktor biologis itu mungkin memang pengaruhnya adalah kondisi misalnya saluran reproduksi ya, serviks, vagina gitu ya, di mana mereka masih dalam kondisi berkembang, dan sel-sel yang melapisinya itu masih lunak, kemudian sel-sel mukosa yang melapisinya masih lunak dan tipis, sehingga dia rentan terjadi iritasi, terjadi lecet, si pertahanan pertamanya rentan rusak, sehingga gampang terjadi invasifum manfatogen yang menyebabkan infeksi pada akhirnya,” lanjutnya.

Kondisi tersebut dapat membuat lapisan pertahanan alami lebih mudah mengalami gangguan. Ketika terjadi iritasi atau luka, mikroorganisme penyebab infeksi dapat lebih mudah masuk dan berkembang Dengan demikian, anggapan bahwa tubuh yang masih muda otomatis memiliki perlindungan lebih baik terhadap IMS justru perlu diluruskan.

 

3. Sistem Kekebalan Tubuh Bukan Jaminan Bebas IMS

Selain faktor biologis, usia juga berkaitan dengan pengalaman seseorang dalam menghadapi berbagai paparan penyakit. Menurut dr. Fadhilah, pada usia muda, sistem imun dan pengalaman tubuh terhadap berbagai paparan belum tentu sama dengan orang yang lebih dewasa. Keragaman respons imun juga masih berkembang.

“Kemudian juga kalau usia masih muda itu kan paparan itu masih baru ya, jadi sel-sel memori antibody-nya juga masih kurang, masih kurang beragam, masih kurang banyak, jadi secara imun dia juga masih rentan,” tutur dr. Fadhilah.

Namun, hal ini bukan berarti sistem kekebalan tubuh remaja pasti lemah atau setiap remaja akan mengalami IMS. Yang perlu dipahami adalah usia muda tidak memberikan kekebalan khusus terhadap infeksi menular seksual.

Risiko tetap ada dan dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor. Di antaranya, ada aktivitas seksual, jumlah dan kondisi pasangan seksual, serta penggunaan perlindungan yang tepat.

4. Kurangnya Pengetahuan Juga Bisa Meningkatkan Risiko

Risiko IMS pada remaja juga tidak dapat dilepaskan dari faktor pengetahuan dan edukasi. Pada masa remaja, kemampuan kognitif dan pengambilan keputusan masih berkembang.

Di sisi lain, informasi mengenai kesehatan seksual dan reproduksi yang diterima remaja belum tentu berasal dari sumber yang benar. Hal ini juga bisa turut memberi pengaruh

“Terus secara psikologi juga fungsi kognitifnya juga masih berkembang, mungkin edukasinya juga, pengetahuannya juga masih kurang, sehingga belum tentu dia benar-benar aman. Bisa saja dia cuma hanya merasa aman karena kurang tahu atau tidak tahu, kan seperti itu,” tutup dr. Fadhilah.

(Djanti Virantika)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Women lainnya