JAKARTA — Peran ayah dinilai tidak kalah penting dalam memastikan kesehatan dan tumbuh kembang anak, terutama sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun. Keterlibatan ayah dalam pemenuhan gizi, kesehatan, dan pengasuhan menjadi salah satu faktor pendukung keberhasilan program 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) sekaligus upaya mencegah stunting.
Pesan tersebut disampaikan Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) RI Dante Saksono Harbuwono saat melakukan kunjungan kerja ke Kota Bogor untuk meninjau pelaksanaan Cek Kesehatan Gratis (CKG) Anak Sekolah dan program 1.000 HPK.
Dalam kunjungan tersebut, turut hadir Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Fajar Riza, Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Wamen PPPA) Veronica Tan, Sekretaris Menteri Koordinator Pemberdayaan Manusia dan Kebudayaan (Sesmenko PMK) Imam Machdi, serta Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Kepresidenan Ade Kadarisman.
Program 1.000 HPK merupakan periode penting yang dimulai sejak 270 hari masa kehamilan hingga 730 hari setelah kelahiran atau ketika anak berusia di bawah dua tahun (baduta). Fase ini menjadi masa penting bagi pertumbuhan dan perkembangan anak, termasuk perkembangan otak.
Program tersebut difokuskan pada pencegahan stunting, penurunan angka kematian ibu dan bayi, serta optimalisasi tumbuh kembang anak. Karena itu, persiapan tidak hanya dilakukan saat anak lahir, tetapi perlu dimulai sejak masa remaja, calon pengantin, hingga pasangan usia subur (PUS).
Wamenkes Dante mengatakan pemerintah menetapkan empat target intervensi utama dalam program 1.000 HPK untuk menekan angka stunting serta menurunkan angka kematian ibu dan bayi di Indonesia.
Keempat target tersebut mencakup fase sebelum kehamilan yang berfokus pada kesehatan remaja putri dan skrining calon pengantin agar siap secara fisik; masa kehamilan, persalinan, dan bayi baru lahir dengan memastikan ibu mendapatkan pemeriksaan USG serta persalinan di fasilitas kesehatan yang aman.
Selanjutnya, intervensi pada periode baduta mencakup pemberian ASI eksklusif, pemenuhan kebutuhan gizi, imunisasi, serta pemantauan tumbuh kembang. Adapun target keempat adalah penguatan layanan kesehatan dengan memastikan puskesmas dan rumah sakit memiliki fasilitas serta dukungan pembiayaan yang memadai.
Namun, menurut Dante, keberhasilan program tersebut tidak cukup hanya mengandalkan layanan kesehatan. Dukungan keluarga, termasuk keterlibatan ayah, juga menjadi bagian penting dalam memastikan anak tumbuh sehat.
Karena itu, Kemenkes mendorong Fatherhood Movement atau Gerakan Keayahan agar para ayah lebih aktif terlibat dalam pemenuhan kesehatan dan kebutuhan anak selama periode 1.000 HPK.
"Perkembangan otak justru terjadi paling besar itu di usia 0 sampai 2 tahun. Oleh karena itu, investasi early years ini sangat penting. Kita juga menginisiasi gerakan Fatherhood Movement agar ayah terlibat aktif dalam pemenuhan kesehatan anak. Kalau dulu kita kenal Suami Siaga saat persalinan, nanti di 1.000 HPK juga ada Ayah Siaga supaya anak-anaknya tumbuh sehat," ujar Wamenkes Dante dilansir dari laman Kemenkes.
Senada dengan Dante, Wamen PPPA Veronica Tan menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor hingga tingkat keluarga. Menurutnya, upaya meningkatkan kualitas kesehatan dan pendidikan anak harus dimulai dari lingkungan rumah.
"Kualitas pendidikan dan kesehatan sangat bergantung pada fondasi keluarga. Terkadang orang tua sibuk, anak juga sibuk. Maka yang terpenting adalah membangun quality time (waktu berkualitas) antara bapak, ibu, dan anak. Kembalikan lagi kebiasaan makan masakan rumah, bukan makanan instan, sebagai fondasi hidup sehat yang kuat," ujar Veronica.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)