DENYUT jantung menjadi salah satu indikator yang dapat digunakan untuk melihat respons tubuh ketika berolahraga. Saat aktivitas fisik meningkat, jantung akan berdetak lebih cepat untuk memompa darah dan oksigen ke seluruh tubuh.
Kini, denyut jantung juga semakin mudah dipantau melalui smartwatch atau perangkat wearable. Namun, angka yang muncul pada layar tetap perlu dipahami dengan tepat dan tidak bisa dijadikan satu-satunya patokan untuk menentukan kondisi kesehatan jantung.
Dokter Umum dari Rumah Sakit Harapan Bunda, dr. Andi Sitti Tandina, dalam acara Morning Zone yang tayang di Youtube Okezone menjelaskan denyut jantung adalah jumlah detak jantung dalam satu menit. Angka ini dapat berubah tergantung aktivitas yang dilakukan.
Ketika tubuh sedang beristirahat, denyut jantung biasanya lebih rendah. Sebaliknya, saat berjalan cepat, berlari, atau melakukan olahraga dengan intensitas tinggi, denyut jantung akan meningkat. Peningkatan tersebut merupakan respons normal tubuh terhadap kebutuhan oksigen dan energi yang lebih besar.
dr. Andi menjelaskan, salah satu cara sederhana yang dapat digunakan untuk memperkirakan denyut jantung maksimal adalah dengan rumus 220 dikurangi usia. Sebagai contoh, seseorang yang berusia 20 tahun memiliki perkiraan denyut jantung maksimal sekitar 200 denyut per menit.
“Nah itu kalau mau dirumuskan, rumusnya itu 220, dikurang usia kita,” ujar dr. Andi.
“Kalau misalkan umurnya 20 tahun, berarti maksimal heart ratenya adalah 200 heart rate per menit,” lanjutnya.
Namun, rumus tersebut hanya merupakan perkiraan dan tidak dapat digunakan sebagai patokan mutlak untuk semua orang. Kondisi kesehatan, tingkat kebugaran, obat-obatan, serta faktor lainnya dapat memengaruhi denyut jantung seseorang.
Smartwatch kini memiliki fitur yang memungkinkan pengguna memantau denyut jantung ketika melakukan aktivitas fisik. Menurut dr. Sitti, fitur tersebut sebenarnya cukup membantu, terutama untuk mengetahui apakah denyut jantung sudah meningkat tinggi ketika berolahraga.
“Sebenarnya kalau dengan yang jam tangan itu sebenarnya membantu,” jelas dr. Sitti.
Dengan melihat angka denyut jantung, seseorang dapat mengetahui respons tubuh terhadap intensitas olahraga. Ketika denyut jantung sudah mendekati batas maksimal, intensitas olahraga dapat dikurangi.
“Jadi maksimal kita bisa lihat tuh, oh denyut jantung saya udah segitu. Nah harusnya udah dibatasi, misalnya denyut jantungnya maksimal di 180. Kalau udah sampai 180, mulai kurangin tuh intensitas olahraganya,” tuturnya.
Meski bermanfaat, smartwatch tetap memiliki keterbatasan. Angka denyut jantung yang muncul pada layar tidak secara otomatis menunjukkan bahwa jantung seseorang dalam kondisi sehat.
dr. Sitti menjelaskan bahwa perangkat tersebut pada dasarnya hanya membantu menghitung atau memantau jumlah denyut jantung. Menurutnya, smartwatch juga tidak dapat memastikan apakah seseorang mengalami gangguan irama jantung tertentu.
“Tapi kelemahannya, itu kan cuma bisa ngitung aja. Nggak bisa lihat ini iramanya normal atau nggak,” jelas dr. Sitti.
“Ini benar-benar nggak ada masalah di irama jantung, itu nggak bisa dilihat. Hanya bisa melihat denyut jantungnya aja,” lanjutnya.