JAKARTA - Kabut asap yang muncul akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) bukan sekadar mengganggu jarak pandang. Paparan asap juga dapat menimbulkan berbagai masalah kesehatan, terutama pada anak-anak, lansia, serta orang yang sudah memiliki gangguan pernapasan.
Asap karhutla mengandung berbagai polutan berbahaya, termasuk partikel halus PM2,5, karbon monoksida, nitrogen dioksida, dan senyawa kimia lainnya. Partikel berukuran sangat kecil tersebut dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan dan meningkatkan risiko gangguan kesehatan.
Lantas, masalah kesehatan apa saja yang dapat muncul atau memburuk akibat paparan kabut asap karhutla? Berikut lima di antaranya:
ISPA merupakan salah satu masalah kesehatan yang kerap muncul ketika masyarakat terpapar kabut asap.
Kandungan polutan dalam asap dapat mengiritasi saluran pernapasan sehingga memicu sejumlah keluhan, seperti batuk, pilek, sakit atau gatal pada tenggorokan, hingga kesulitan bernapas.
Paparan asap karhutla juga dapat meningkatkan risiko terjadinya ISPA. Kementerian Kesehatan mencatat peningkatan kasus di sejumlah daerah terdampak pada 2026. Di Kalimantan Tengah, misalnya, jumlah kasus dilaporkan naik dari 402 menjadi 716 kasus dalam waktu satu pekan atau sekitar 78,1 persen.
Kabut asap karhutla juga perlu diwaspadai karena dapat meningkatkan risiko gangguan pada paru-paru, termasuk pneumonia.
Pneumonia merupakan infeksi yang menyebabkan jaringan paru-paru mengalami peradangan. Penderitanya dapat mengalami gejala berupa batuk, demam, sesak napas, serta tubuh terasa lemas.
Risiko dampaknya perlu menjadi perhatian lebih bagi kelompok rentan, seperti anak-anak, lansia, dan orang yang telah memiliki gangguan paru sebelumnya.
Kualitas udara yang buruk akibat kabut asap dapat menjadi pemicu kekambuhan pada penderita asma.
Partikel halus yang terdapat dalam asap dapat mengganggu saluran pernapasan dan menyebabkan munculnya gejala seperti batuk, sesak napas, serta napas berbunyi.
Oleh sebab itu, penderita asma perlu lebih waspada ketika terjadi karhutla dan kualitas udara di lingkungan tempat tinggal menurun.
Dampak kabut asap tidak hanya dirasakan oleh orang yang sebelumnya sehat. Mereka yang telah memiliki penyakit paru juga berisiko mengalami kondisi yang semakin berat setelah terpapar asap.
Penderita penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), misalnya, perlu menghindari paparan polusi udara sebisa mungkin. Partikel halus dari asap dapat masuk ke saluran pernapasan dan memperburuk gejala yang sudah dialami.
Karena itu, penderita penyakit paru disarankan lebih memperhatikan kualitas udara dan membatasi aktivitas di luar ruangan ketika kabut asap sedang pekat.
Selain saluran pernapasan, paparan asap karhutla juga dapat mengganggu kesehatan mata.
Asap dan berbagai zat pencemar di dalamnya dapat menyebabkan mata terasa perih, merah, gatal, atau lebih banyak mengeluarkan air mata. Iritasi tersebut dapat semakin terasa ketika seseorang berada di luar ruangan saat kualitas udara memburuk.
Dengan demikian, masyarakat yang berada di wilayah terdampak karhutla perlu meningkatkan perlindungan diri dari paparan asap, terutama kelompok yang lebih rentan terhadap gangguan kesehatan.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)