Paparan asap karhutla juga dapat meningkatkan risiko terjadinya ISPA. Kementerian Kesehatan mencatat peningkatan kasus di sejumlah daerah terdampak pada 2026. Di Kalimantan Tengah, misalnya, jumlah kasus dilaporkan naik dari 402 menjadi 716 kasus dalam waktu satu pekan atau sekitar 78,1 persen.
Kabut asap karhutla juga perlu diwaspadai karena dapat meningkatkan risiko gangguan pada paru-paru, termasuk pneumonia.
Pneumonia merupakan infeksi yang menyebabkan jaringan paru-paru mengalami peradangan. Penderitanya dapat mengalami gejala berupa batuk, demam, sesak napas, serta tubuh terasa lemas.
Risiko dampaknya perlu menjadi perhatian lebih bagi kelompok rentan, seperti anak-anak, lansia, dan orang yang telah memiliki gangguan paru sebelumnya.
Kualitas udara yang buruk akibat kabut asap dapat menjadi pemicu kekambuhan pada penderita asma.