Gula Darah Tetap Tinggi Meski Sudah Kurangi Makanan Manis? Ini Penyebabnya

Kurniasih Miftakhul Jannah, Jurnalis
Senin 24 Agustus 2026 19:53 WIB
Gula Darah Tetap Tinggi Meski Sudah Kurangi Makanan Manis? Ini Penyebabnya (Foto: Freepik)
Share :

JAKARTA - Mengurangi konsumsi makanan dan minuman manis memang dapat menjadi salah satu langkah untuk membantu menjaga kadar gula darah. Namun, kadar glukosa tidak hanya dipengaruhi oleh seberapa banyak gula yang dikonsumsi. Pola makan secara keseluruhan, komposisi nutrisi, aktivitas fisik, kondisi metabolisme, hingga pengobatan turut berperan.

Dr. Gagandeep Singh, MBBS, pendiri Redial Clinic, New Delhi, sekaligus spesialis Kedokteran Metabolik dan Pembalikan Diabetes, menjelaskan sejumlah nutrisi yang dapat mendukung pengelolaan gula darah. Menurutnya, nutrisi tersebut sebaiknya dipandang sebagai bagian dari pola hidup sehat, bukan pengganti terapi medis, demikian dilansir dari laman Indian Today.

1. Protein membantu mengendalikan lonjakan gula darah setelah makan

Protein tidak hanya dibutuhkan untuk pembentukan dan pemeliharaan otot. Nutrisi ini juga dapat memengaruhi respons tubuh terhadap makanan yang mengandung karbohidrat.

Mengonsumsi sumber protein sebelum atau bersamaan dengan karbohidrat dapat memperlambat pengosongan lambung. Dengan demikian, peningkatan kadar glukosa setelah makan dapat berlangsung lebih bertahap.

“Protein dikonsumsi terlebih dahulu karena suatu alasan. Mengonsumsi protein yang cukup, dari telur, paneer, ayam, atau ikan, sebelum atau bersamaan dengan karbohidrat memperlambat pengosongan lambung dan mengurangi kurva glukosa yang terjadi setelah makan,” kata Dr. Singh.

Menurutnya, perbedaan respons tersebut juga dapat terlihat melalui pemantauan kadar glukosa. Makanan berbahan dasar nasi, misalnya, dapat menghasilkan kenaikan gula darah yang lebih terkendali ketika dikonsumsi bersama sumber protein.

2. Serat membuat penyerapan glukosa lebih lambat

Serat merupakan komponen penting dalam pola makan untuk membantu menjaga kadar gula darah. Khususnya serat larut, yang dapat memperlambat proses pencernaan sehingga penyerapan glukosa ke dalam tubuh tidak berlangsung terlalu cepat.

Buah utuh seperti beri, kiwi, dan alpukat dapat menjadi pilihan sumber serat. Sayuran seperti bayam dan labu botol juga dapat ditambahkan ke dalam menu sehari-hari.

Yang perlu diperhatikan adalah bentuk makanan. Buah utuh lebih disarankan dibandingkan jus karena kandungan seratnya masih terjaga. Selain itu, mengonsumsi buah dalam bentuk utuh cenderung membuat seseorang membutuhkan waktu lebih lama untuk menghabiskannya sehingga asupan gula tidak masuk dalam jumlah besar secara cepat.

3. Lemak sehat mendukung kesehatan metabolisme

Lemak sehat, termasuk asam lemak omega-3, juga dapat menjadi bagian dari pola makan yang mendukung kesehatan metabolik. Omega-3 dapat ditemukan antara lain pada ikan berlemak dan kacang kenari.

Dr. Singh menjelaskan bahwa omega-3 tidak secara langsung berfungsi sebagai penurun gula darah. Namun, nutrisi tersebut berkaitan dengan proses yang berhubungan dengan peradangan dan resistensi insulin.

“Bukti terkuatnya adalah seputar pengurangan peradangan ringan yang menyertai resistensi insulin, salah satu mekanisme yang mencegah sel merespons insulin dengan benar sejak awal,” ujarnya.

Karena itu, komposisi makanan secara keseluruhan menjadi penting. Menu yang terdiri dari protein, sayuran, dan sumber lemak sehat tentu berbeda dengan makanan yang sebagian besar berasal dari karbohidrat olahan.

4. Magnesium berperan dalam metabolisme glukosa

Magnesium terlibat dalam berbagai proses tubuh, termasuk mekanisme yang berkaitan dengan metabolisme glukosa. Asupan magnesium dari makanan juga dikaitkan dengan risiko diabetes tipe 2 yang lebih rendah, meski hal tersebut tidak serta-merta membuktikan bahwa suplemen magnesium dapat mencegah atau mengobati diabetes.

Beberapa makanan yang mengandung magnesium antara lain sayuran berdaun hijau, kacang-kacangan, biji-bijian, dan ikan.

Namun, kadar gula darah yang tinggi bukan alasan untuk langsung mengonsumsi suplemen magnesium. Penggunaan suplemen sebaiknya dilakukan berdasarkan kebutuhan dan anjuran tenaga medis.

5. Zat besi juga berhubungan dengan hasil HbA1c

Zat besi menjadi salah satu nutrisi yang perlu diperhatikan, tetapi bukan karena dapat secara langsung menurunkan gula darah. Kekurangan zat besi, khususnya anemia akibat defisiensi zat besi, dapat memengaruhi hasil pemeriksaan HbA1c.

Sejumlah penelitian menemukan bahwa anemia akibat kekurangan zat besi dapat membuat nilai HbA1c tampak lebih tinggi meskipun tidak selalu mencerminkan peningkatan kadar glukosa yang sebenarnya.

Meski demikian, kondisi tersebut bukan berarti harus diatasi dengan mengonsumsi suplemen zat besi secara sembarangan. Kelebihan zat besi juga dapat memberikan dampak buruk bagi tubuh. Pemeriksaan untuk memastikan adanya kekurangan zat besi dan penanganannya sebaiknya dilakukan berdasarkan rekomendasi dokter.

(Kurniasih Miftakhul Jannah)

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Women lainnya