Keterbatasan fasilitas akibat gempa tidak menghentikan upaya tenaga kesehatan dalam menangani pasien dengan kondisi darurat. Saat meninjau ruang operasi lapangan, Menkes Budi berdialog dengan dr. Restu, salah satu dokter bedah yang melakukan operasi sesar darurat (SC cito) sesaat setelah gempa terjadi.
Terputusnya akses jalan dan jembatan menuju fasilitas rujukan membuat dr. Restu dan tim harus mengambil keputusan dengan cepat. Demi menyelamatkan ibu dan bayi, operasi dilakukan di dekat pintu masuk gedung yang masih dapat digunakan dengan peralatan medis terbatas.
“Waktu itu saya pertimbangkan rencana SC cito, tapi jalur rujukan terputus. Jembatan rusak, jalan rusak,” ungkap dr. Restu.
Keputusan tersebut berakhir dengan kelahiran seorang bayi prematur dengan berat 1.500 gram. Bayi tersebut berhasil lahir dengan selamat dan kini menjalani perawatan intensif di ruang perinatologi.
Untuk mengantisipasi kondisi serupa, Menkes memastikan ketersediaan sejumlah alat medis esensial di rumah sakit lapangan Nagekeo. Mesin anestesi dan alat kauter untuk membantu menghentikan pendarahan telah disiagakan agar tenaga medis dapat menangani kasus kegawatdaruratan dengan lebih optimal di lokasi bencana.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)