Menurutnya, berbagai faktor yang memengaruhi risiko demensia sebenarnya tidak sepenuhnya berada di luar kendali manusia. Sejumlah faktor dapat dimodifikasi melalui perubahan gaya hidup dan pengelolaan kondisi kesehatan.
Ketiga kondisi tersebut berkaitan dengan kesehatan pembuluh darah. Ketika kesehatan pembuluh darah terganggu, otak juga dapat terkena dampaknya karena membutuhkan pasokan darah dan oksigen yang memadai untuk menjalankan fungsi normal.
Perlmutter menilai hasil penelitian ini penting karena menunjukkan bahwa faktor risiko dapat memberikan dampak secara kumulatif. Semakin banyak faktor risiko yang dimiliki seseorang, semakin besar pula risikonya.
Peserta yang memiliki diabetes, hipertensi, sekaligus merupakan perokok tercatat memiliki risiko demensia sekitar 2,7 kali lebih tinggi dibandingkan mereka yang tidak memiliki ketiga faktor tersebut.
Meski demikian, hasil penelitian ini tidak berarti seseorang pasti akan mengalami atau terhindar dari demensia hanya berdasarkan tiga faktor tersebut.