Merasa Sehat Belum Tentu Selamat: saat Penyakit Mematikan Datang Tanpa Gejala

Mei Sada Sirait, Jurnalis
Selasa 11 Agustus 2026 10:05 WIB
Cek kesehatan gratis. (Foto: Freepik)
Share :

CEK Kesehatan Gratis menemukan jutaan warga Indonesia mengidap hipertensi, diabetes, hingga kolesterol tinggi tanpa mereka sadari. Kini tantangannya bukan lagi menemukan penyakit, tetapi memastikan masyarakat mau mengobatinya.

Suatu pagi, seseorang bangun seperti biasa. Ia berangkat bekerja, mengantar anak sekolah, bahkan masih sempat bermain bulu tangkis bersama teman-temannya di akhir pekan. Tidak ada keluhan berarti. Tidak ada rasa sakit. Tubuh terasa baik-baik saja.

Namun ketika mengikuti Program Cek Kesehatan Gratis (CKG), hasil pemeriksaan menunjukkan tekanan darahnya jauh di atas normal. Gula darahnya pun mulai meningkat.

Ia termasuk orang yang selama ini merasa sehat, padahal penyakit perlahan berkembang di dalam tubuhnya.

Melalui evaluasi Program Cek Kesehatan Gratis hingga 31 Juli 2026, Kementerian Kesehatan menemukan jutaan masyarakat Indonesia hidup berdampingan dengan penyakit yang sering disebut silent killer. Penyakit yang berkembang tanpa gejala, tetapi berujung pada stroke, serangan jantung, hingga gagal ginjal.

Wakil Menteri Kesehatan RI, Prof. dr. Dante Saksono Harbuwono, Sp.PD-KEMD, Ph.D mengatakan, banyak orang baru mengetahui dirinya mengidap penyakit setelah kondisinya sudah cukup berat.

“Orang hipertensi enggak tahu kalau dia hipertensi. Orang diabetes enggak tahu kalau dia diabetes,” ujarnya.

Menurut Prof. Dante, fenomena itu terlihat dalam sebuah studi di Jakarta. Dari setiap delapan orang, satu di antaranya menderita diabetes.

Ironisnya, lebih banyak orang yang tidak sadar dirinya mengidap diabetes dibanding mereka yang sudah mengetahui diagnosisnya. Bagi Kementerian Kesehatan, temuan tersebut menjadi alasan mengapa Program Cek Kesehatan Gratis tidak boleh berhenti hanya pada pemeriksaan.

Sementara itu, Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin mengakui fokus pemerintah kini mulai bergeser. Jika tahun sebelumnya perhatian utama adalah memperluas cakupan pemeriksaan kesehatan, maka tahun ini pemerintah mulai memastikan masyarakat yang terdeteksi sakit benar-benar mendapatkan pengobatan.

“Tahun lalu kita fokusnya ke ngeceknya. Tahun ini kita fokus mulai tata laksananya, pengobatannya, perawatannya,” kata Budi.

Pemerintah memprioritaskan tiga kondisi kesehatan, yakni hipertensi, diabetes, dan kolesterol tinggi. Alasannya sederhana, ketiga penyakit tersebut menjadi pintu masuk berbagai penyakit mematikan yang selama ini menjadi penyebab kematian terbesar masyarakat Indonesia.

“Kalau tiga ini bisa kita kendalikan, penyakit stroke, jantung, ginjal, tiga dari empat penyakit pembunuh utama itu bisa kita kurangi,” ujarnya.

Target akhirnya bukan sekadar menambah jumlah masyarakat yang diperiksa, tetapi meningkatkan usia harapan hidup masyarakat Indonesia hingga 76 tahun pada 2029.

Sebagai informasi, data Cek Kesehatan Gratis menunjukkan betapa besarnya tantangan kesehatan masyarakat Indonesia. Hingga akhir Juli 2026, sebanyak 73 juta orang telah mengikuti pemeriksaan kesehatan.

Angka ini bahkan melampaui capaian sepanjang tahun sebelumnya. Dari puluhan juta peserta tersebut ditemukan:

- 4,9 juta orang mengalami hipertensi

- 5,5 juta berada pada kondisi prehipertensi

- Hampir 1 juta orang terdiagnosis diabetes

- 1,9 juta lainnya berada pada fase prediabetes

- Sekitar 11 juta orang mengalami obesitas

- Ratusan ribu peserta juga ditemukan memiliki gangguan lemak darah atau dislipidemia.

 

Temuan tersebut memperlihatkan bahwa ancaman terbesar bukan lagi penyakit yang langsung terasa, melainkan penyakit yang berkembang diam-diam.

Namun, menemukan penyakit hanyalah langkah pertama. Direktur Jenderal Kesehatan Masyarakat Maria Endang Sumiwi mengungkapkan evaluasi di sejumlah puskesmas menunjukkan masih banyak peserta CKG yang belum melanjutkan pengobatan, meski sudah mengetahui kondisi kesehatannya.

Dalam uji petik di beberapa puskesmas, baru sekitar 43 hingga 62 persen pasien yang langsung menerima terapi setelah diketahui mengalami hipertensi, diabetes, atau kolesterol tinggi. Padahal pemerintah telah menyediakan obat gratis selama 15 hari pertama sebelum pengobatan dilanjutkan melalui BPJS Kesehatan.

Temuan itu menunjukkan bahwa tantangan Cek Kesehatan Gratis tidak berhenti ketika seseorang menerima hasil pemeriksaan. Deteksi dini harus diikuti dengan langkah pengobatan agar penyakit yang ditemukan tidak dibiarkan berkembang.

“Cek Kesehatan Gratis: Cegah Dini, Tuntas Obati,” menjadi gambaran bahwa pemeriksaan kesehatan bukanlah tujuan akhir, melainkan pintu masuk untuk memastikan masyarakat mendapatkan penanganan sedini mungkin.

Menurut Endang, kondisi itu menjadi pekerjaan rumah berikutnya. Kementerian Kesehatan pun kini tengah mengevaluasi berbagai strategi agar masyarakat yang telah terdiagnosis tidak berhenti hanya sampai mengetahui hasil pemeriksaan nya.

Perubahan pola penyakit di Indonesia sebenarnya sudah berlangsung puluhan tahun. Jika dahulu masyarakat lebih banyak meninggal akibat penyakit infeksi, kini penyebab utama kematian bergeser menjadi penyakit tidak menular seperti stroke, penyakit jantung, dan gagal ginjal.

Semuanya berawal dari kondisi yang sering tidak menimbulkan keluhan. Karena itu, pesan utama Program Cek Kesehatan Gratis bukan sekadar mengajak masyarakat memeriksakan diri, melainkan mengubah kebiasaan lama untuk tidak lagi menunggu tubuh memberi sinyal bahaya.

Sebab bagi penyakit seperti hipertensi dan diabetes, ketika gejala akhirnya muncul, sering kali kerusakan sudah terlanjur terjadi.

(Djanti Virantika)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Women lainnya