JAKARTA – Aroma yang menemani masa kecil anak ternyata memiliki peran penting dalam membentuk kenangan yang bertahan hingga dewasa. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa pengalaman sensorik, khususnya melalui indra penciuman, mampu memicu memori yang lebih kuat dibandingkan indra lainnya.
Temuan yang dipublikasikan dalam Frontiers in Psychology menjelaskan bahwa odor-evoked autobiographical memory atau memori autobiografis yang dipicu oleh aroma cenderung terasa lebih hidup, emosional, dan bertahan lebih lama dibandingkan memori yang dipicu oleh penglihatan maupun pendengaran.
Hal ini terjadi karena sistem penciuman terhubung langsung dengan sistem limbik (limbic system), yaitu bagian otak yang berperan dalam mengatur emosi dan menyimpan memori.
Temuan tersebut memperlihatkan bahwa masa kecil tidak hanya dibentuk oleh apa yang dilihat atau dilakukan anak, tetapi juga oleh pengalaman sensorik yang mereka rasakan setiap hari. Aroma rumput setelah hujan, wangi pakaian yang baru dikenakan, kesegaran setelah mandi, hingga aroma yang menemani momen saat dipeluk orang tua dapat menjadi bagian dari memori yang tersimpan dalam ingatan mereka.
Temuan serupa juga diungkapkan oleh The Sense of Smell Institute, yang menyebut aroma memiliki kemampuan unik membangun hubungan emosional karena diproses langsung oleh pusat emosi di otak. Tak heran, banyak orang dewasa masih mampu mengingat aroma tertentu yang identik dengan masa kecil mereka meski telah berlalu puluhan tahun.