Di sisi lain, Maria juga menyoroti pola asuh yang terlalu permisif atau serba membolehkan. Menurutnya, pola asuh yang lembut bukan berarti orang tua membiarkan anak melakukan apa saja tanpa aturan.
“Ketika kita melarang anak, yang paling penting bukan hanya larangannya, tetapi apa yang menyebabkan dia tidak boleh melakukan itu,” ujar Maria.
Maria menjelaskan bahwa anak-anak memiliki pola pikir yang masih konkret sehingga membutuhkan penjelasan sederhana dan sesuai dengan usianya. Sebagai contoh, ketika orang tua melarang anak berlari di dalam rumah, bukan hanya mengatakan “jangan lari” atau “Mama marah”, tetapi menjelaskan alasan konkret seperti risiko menabrak perabotan atau membahayakan diri sendiri.
“Anak perlu memahami sebab dan akibat. Jadi dijelaskan secara konkret sesuai dengan tahap perkembangannya,” jelas Maria.
Menurut Maria, pola asuh yang baik bukan berada pada pola keras maupun terlalu bebas, melainkan keseimbangan antara aturan dan empati. Anak tetap membutuhkan batasan, tetapi juga perlu memahami alasan di balik setiap aturan.
Dengan pola asuh yang tepat, anak diharapkan tumbuh menjadi pribadi yang disiplin, mampu mengambil keputusan, serta memiliki keberanian untuk menyampaikan pendapat tanpa kehilangan rasa hormat kepada orang lain.
“Tujuannya bukan hanya membuat anak patuh saat kecil, tetapi membentuk orang dewasa yang mampu memahami, bertanggung jawab, dan memiliki karakter yang sehat,” pungkasnya.
(Djanti Virantika)