JAKARTA – Saat menjalani program hamil, banyak pasangan lebih fokus memeriksakan kondisi kesehatan istri. Padahal, faktor kesuburan pria juga berperan besar dalam keberhasilan kehamilan dan menyumbang sekitar 40 hingga 50 persen kasus infertilitas pada pasangan.
Dokter spesialis obstetri dan ginekologi (obgyn), dr. Fajar Alam, mengingatkan bahwa pemeriksaan kesuburan sebaiknya dilakukan oleh kedua pasangan, bukan hanya perempuan. Menurutnya, masih banyak suami yang enggan memeriksakan diri karena merasa malu atau menganggap masalah kesuburan hanya berkaitan dengan wanita.
Melalui unggahan video di akun Instagram-nya, dr. Fajar menjelaskan bahwa suami perlu menjalani pemeriksaan kesuburan apabila pasangan telah menikah selama satu tahun, rutin berhubungan intim tanpa menggunakan alat kontrasepsi, tetapi belum juga memperoleh kehamilan.
"Kapan suami wajib diperiksa kesuburannya? Jangan hanya periksa istri saja ya. Suami juga harus diperiksa kesuburannya apabila sudah satu tahun menikah, tetapi belum juga hamil. Tanpa KB, tapi juga belum hamil," kata dr. Fajar Alam.
Ia menegaskan bahwa faktor kesuburan pria memiliki kontribusi yang cukup besar terhadap kasus infertilitas. Karena itu, pemeriksaan sperma perlu dilakukan untuk mengetahui apakah terdapat gangguan yang memengaruhi peluang terjadinya kehamilan.
"Tanpa KB, tapi juga belum hamil. Segera periksa suaminya untuk pemeriksaan sperma karena ini menyumbang sekitar 40 sampai 50 persen kasus infertilitas," ujarnya.
Menurut dr. Fajar, mengabaikan pemeriksaan pada pihak pria justru dapat memperlambat penanganan masalah kesuburan yang sebenarnya bisa dideteksi lebih awal. Semakin cepat penyebab infertilitas diketahui, semakin besar pula peluang pasangan mendapatkan penanganan yang tepat.
Karena itu, ia mengimbau para suami untuk tidak merasa malu atau gengsi menjalani pemeriksaan kesuburan. Keberhasilan program kehamilan merupakan tanggung jawab bersama antara suami dan istri.
"Jadi, untuk para suami jangan gengsi ya," pungkasnya.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)