ORANGTUA merasa tenang ketika melihat anak mereka lebih banyak diam, tidak banyak mengeluh, dan tampak tidak membuat masalah. Namun, kenyataannya tidak selalu demikian.
Diam bukan selalu tanda bahwa anak baik-baik saja. Dalam beberapa situasi, diam justru bisa menjadi cara anak menyimpan perasaan, kebingungan, atau masalah yang belum mampu mereka ungkapkan.
Apalagi, sekarang muncul fenomena baru soal anak yang lebih nyaman curhat ke teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). Tak ayal, orangtua harus waspada dan peka dengan kondisi anak.
Psikolog Anak Remaja dan Keluarga, Sani Budiantini, S.Psi, Psi, dalam acara Morning Zone di Youtube Okezone mengatakan orangtua sebenarnya adalah orang yang paling dekat dengan anak. Meskipun tidak selalu terlibat dalam percakapan panjang setiap hari, orangtua dan anak tetap bersinggungan dalam kehidupan sehari-hari.
Anak berlalu-lalang di rumah, makan bersama, berangkat sekolah, atau sekadar beraktivitas di sekitar keluarga. Kedekatan inilah yang seharusnya menjadi modal bagi orang tua untuk lebih peka terhadap kondisi anak.
“Sebenarnya gini, orangtua kan orang yang dekat dengan anak. Sebenarnya orangtua dengan anak itu bersinggungan, walaupun enggak ngomong, anak seliweran di rumah. Sebenarnya orangtua harus peka melihat mood anak, ekspresi anak, perilaku anak, melihat type anak,” ujar Sani.
“Misalnya ini anak doyan banget mpek-mpek dikasih mpek-mpek kok enggak dimakan ya, kenapa ya. Atau misalnya anak lebih malas ke sekolah sebenarnya orangtua harus peka dulu sih peka terhadap perubahan perilaku atau mood terhadap anak,” lanjutnya.
Tidak semua anak mampu mengungkapkan masalahnya secara langsung. Ada anak yang menjadi lebih sensitif, mudah marah, lebih pendiam, atau justru menarik diri dari aktivitas yang biasanya mereka sukai. Karena itu, orang tua perlu lebih waspada terhadap perubahan yang muncul, meskipun anak tidak pernah bercerita atau mengeluh.
Di era digital saat ini, sebagian anak dan remaja mulai memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) sebagai tempat bertanya, mencari informasi, bahkan mencurahkan isi hati. Fenomena ini semakin umum karena AI dianggap mudah diakses, tidak menghakimi, dan selalu tersedia kapan saja.
Namun, penting dipahami bahwa anak yang curhat kepada AI bukan berarti masalahnya otomatis selesai. AI mungkin dapat memberikan informasi, saran, atau ruang bagi anak untuk mengekspresikan perasaannya, tetapi kebutuhan anak untuk dipahami dan didampingi oleh manusia tetap tidak tergantikan.
Karena itu, Sani mengingatkan orangtua tidak perlu langsung khawatir atau memusuhi teknologi. Sebaliknya, jadikan fenomena ini sebagai pintu masuk untuk membangun komunikasi yang lebih baik dengan anak.
Sering kali anak lebih terbuka ketika diajak berbicara tanpa merasa diinterogasi. Orang tua dapat memulai dengan pertanyaan sederhana. Pertanyaan-pertanyaan ringan seperti ini dapat membantu orang tua memahami seberapa besar peran AI dalam kehidupan anak. Dari situ, percakapan bisa berkembang secara alami.
“Karena enggak otomatis juga anak yang ngomong sama AI langsung juga masalahnya terselesaikan. Karena anak juga biasanya untuk menunjukkan gejala-gejala perubahan perilaku atau cenderung sensitif, tapi kadang kita bingung ya menunjukkan perubahan perilaku atau kecenderungan sensitifitasnya, tapi kok enggak lewat curhat, kok gak ngobrol, nah kita yang harus waspada juga,” ujar Sani.
“Bisa juga orangtua nanya ‘Kami tau AI enggak sih, AI apa gunanya buat kamu? Atau AI sebenarnya bermanfaat enggak sih?’ Bisa pancing-pancinglah seberapa besar anak menggunakan AI. Nah dari situ bisa mulai masuk ‘Kamu pernah enggak sih curhat pakai AI?’ jadi anak diajak ngobrol. Nah bisa tanya lagi, ‘Biasanya kamu curhat apa sih di AI?’ Nah, mudah-mudahan anak jadi terbuka,” tutupnya.
(Djanti Virantika)