PENGGUNAAN kantong plastik hitam untuk membungkus daging kurban masih menjadi kebiasaan yang sering ditemui di masyarakat saat perayaan Idul Adha. Padahal, sejumlah pakar mengingatkan bahwa penggunaan plastik jenis ini tidak disarankan untuk bahan pangan karena berpotensi menimbulkan risiko kesehatan.
Guru Besar FMIPA Universitas Indonesia, Profesor Agustino Zulys, pun memberikan penjelasannya. Dia menegaskan bahwa plastik hitam umumnya berasal dari bahan daur ulang yang tidak dirancang untuk kontak langsung dengan makanan, sehingga dikhawatirkan dapat mencemari daging kurban yang akan dikonsumsi.
Plastik hitam tampaknya sudah menjadi sesuatu hal yang lumrah dan barang yang terbiasa digunakan oleh masyarakat dalam hal apa pun, termasuk membungkus makanan maupun daging. Padahal, plastik hitam tidak diperuntukkan bagi pembungkus makanan.
Dalam unggahan video di akun Instagram Guru Besar FMIPA Universitas Indonesia, Profesor Agustino Zulys, dia mengatakan bahwa plastik hitam tampaknya sering digunakan untuk membungkus daging. Namun, hal tersebut sangat tidak disarankan.
Plastik hitam dibuat dari bahan daur ulang limbah elektronik. Kandungannya pun bisa saja menempel pada daging atau makanan.
“Plastik hitam yang sering dipakai untuk bungkus daging ternyata bukan plastik biasa. Plastik hitam berasal dari daur ulang limbah elektronik seperti kesing TV, komputer, dan kabel. Artinya, yang dulu pembungkus alat listrik, sekarang pembungkus daging kurban,” kata Prof. Zulys, dikutip Jumat (29/5/2026).
Ia menjelaskan bahwa dari penelitian yang ada, ada lebih dari 600 sampel plastik hitam ternyata mengandung bahan anti api. Selain itu, plastik hitam juga mengandung logam berat seperti timbal, kadmium, merkuri, kromium, bahkan antimon, dan juga mengandung pewarna hitam seperti carbon black untuk menyembunyikan kontaminasi.
“Zat-zat ini sebenarnya dipakai untuk pembungkus elektronik, bukan untuk makanan,” jelas dia.
Prof. Zulys menuturkan, berbagai zat berbahaya di atas bisa saja menempel dan berpindah dari plastik pada makanan saat terkena panas dan kontak langsung dalam waktu yang cukup lama. Tak main-main, jika zat tersebut menempel pada makanan dan tidak sengaja dikonsumsi oleh manusia, gangguan saraf hingga potensi karsinogenik mengancam.
“Efeknya bisa menimbulkan gangguan saraf, kerusakan ginjal, gangguan hormon, dan potensi karsinogenik. Artinya, ia boleh dipakai untuk keperluan lain tapi jangan untuk pembungkus makanan karena kita tidak tahu plastik itu berasal dari mana,” tutur Prof. Zulys.
Lebih lanjut, ia menyarankan agar plastik hitam bisa diganti dengan wadah yang lebih sehat dan ramah lingkungan. Di antaranya, ada daun pisang dan daun jati.
“Wadah yang bisa digunakan kembali seperti kotak makanan atau besek. Kalau tetap mau pakai plastik, pakailah plastik terang bening yang food grade. Lebih aman dan terkontrol untuk kemasan makanan,” pungkas dia.
(Djanti Virantika)