BANYAK mitos beredar di masyarakat bahwa daging kambing bersifat “panas” di perut. Alhasil, ibu hamil dilarang keras mengonsumsinya, termasuk sate kambing.
Namun, apakah anggapan ini benar secara medis? Dokter spesialis penyakit dalam dari Rumah Sakit Premier Jatinegara, dr. Dwi Rendra Hadi, Sp.PD, dalam acara Morning Zone di Youtube Okezone, pun memberikan pejelasannya.
dr. Rendra mengatakan bahwa istilah “panas” pada daging kambing sebenarnya bukan istilah medis. Dalam dunia kesehatan, tidak dikenal konsep makanan yang secara harfiah membuat tubuh “panas” seperti yang dimaksud dalam kepercayaan tradisional.
Daging kambing, seperti daging merah lainnya, memang memiliki efek termogenik, yaitu dapat meningkatkan produksi panas tubuh selama proses pencernaan. Namun, efek ini bersifat normal dan tidak berbahaya bagi ibu hamil jika dikonsumsi dalam jumlah wajar.
“Jadi istilah panas ini kan bukan suatu istilah yang medis ya. Jadi memang mereka ada efek termogenik karena sifat dari daging itu sendiri. Tapi apakah jadi enggakk boleh untuk ibu hamil? Jawabannya enggak ya,” ujar dr. Rendra.
Menurut penjelasan dr. Rendra, ibu hamil sebenarnya tidak dilarang mengonsumsi daging kambing. Justru, daging merah merupakan sumber penting protein dan zat besi yang sangat dibutuhkan selama kehamilan untuk mendukung pembentukan sel darah merah dan perkembangan janin.
Yang menjadi perhatian utama bukan jenis dagingnya, melainkan cara pengolahannya. Makanan yang setengah matang atau tidak matang sempurna berisiko membawa bakteri atau parasit yang dapat membahayakan ibu hamil dan janin.
Oleh karena itu, konsumsi sate kambing atau daging kambing tetap diperbolehkan selama dimasak hingga matang sempurna dan dalam porsi yang wajar. Kebutuhan zat besi pada ibu hamil juga cenderung lebih tinggi dibandingkan kondisi normal. Hal ini membuat asupan daging merah, termasuk kambing, dapat menjadi bagian dari pola makan yang sehat jika dikonsumsi secara seimbang.
“Ibu hamil kan sangat butuh nutrisi, protein yang mana itu banyak didapat dari daging merah. Yang berbahaya untuk ibu hamil itu pengolahannya. Jadi yang setengah matang, apalagi yang enggak matang itu sangat dihindari ibu hamil. Risiko kesehatannya meningkat,” jelas dr. Rendra.
“Lagi-lagi kalau bicara takaran yang ideal bervariasi untuk setiap orang. Untuk ibu hamil sebenarnya sedikit lebih tinggi karena kebutuhan zat besi lebih tinggi,” tutupnya.
(Djanti Virantika)