“Pas jalan cepat, otot jantung bakal sedikit kurang oksigen sementara. Nah, ini murni buat mancing tubuh ngebentuk cabang pembuluh darah baru atau angiogenesis biar aliran oksigen ke jantung makin lancar,” jelasnya.
Menurut dr. Cecep, metode ini juga disebut dapat membantu meningkatkan kapasitas pernapasan dan membuat pembuluh darah lebih lentur sehingga tekanan darah menjadi lebih stabil.
“Plus ritme gas rem ini terbukti nambah kapasitas nafas kita. Bikin pembuluh darah lebih lentur buat stabilin tensi dan maksa otot nyerap gula darah lebih optimal,” ungkap dr. Cecep.
Lebih lanjut, ia menjelaskan ada beberapa tanda untuk mengetahui apakah seseorang sudah masuk ke fase jalan cepat saat melakukan Japanese Walking. Salah satunya dapat dilihat dari pola napas yang mulai lebih cepat hingga hanya mampu mengucapkan satu atau dua kata.
“Patokan jalan cepatnya gimana sih? Pakai tes ngomong aja. Pas ngebut usahain nafas agak ngos-ngosan dan cuma sanggup ngucap satu dua kata,” tuturnya.