“Ketika lingkungan memahami cara anak berkomunikasi, anak akan merasa lebih aman dan percaya diri untuk mengekspresikan dirinya,” papar salah satu terapis.
Sementara itu, CEO Indonesia Writing Edu Center (IWEC), Maylia Erna Sutarto, mengatakan kisah Naya diharapkan dapat memperkaya literasi anak terkait isu disabilitas dan inklusi sosial. Menurutnya, buku cerita anak dengan tema autisme dan komunikasi alternatif masih cukup minim di Indonesia.
Gerakan “Setiap Anak Punya Suara” juga mengajak keluarga, sekolah, komunitas, media, hingga institusi publik untuk bersama-sama membangun lingkungan yang lebih ramah bagi anak disabilitas. Melalui gerakan ini, masyarakat diingatkan bahwa setiap anak memiliki suara yang layak untuk didengar, meski tidak selalu disampaikan lewat kata-kata.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)