JAKARTA – Anak disabilitas, khususnya anak autis non-verbal, dinilai masih menghadapi tantangan besar untuk dipahami lingkungan sekitar. Padahal, setiap anak memiliki cara berbeda untuk berkomunikasi dan mengekspresikan diri.
Isu tersebut diangkat dalam buku “Naya dan Talkernya” yang sekaligus menjadi momentum diperkenalkannya gerakan “Setiap Anak Punya Suara”. Kegiatan ini sekaligus memberikan edukasi mengenai pentingnya menciptakan ruang yang lebih inklusif bagi anak berkebutuhan khusus.
“Naya dan Talkernya” mengisahkan perjalanan seorang anak autis non-verbal dalam menemukan cara berkomunikasi melalui talker, alat bantu komunikasi yang membantu anak menyampaikan kebutuhan, emosi, hingga pikirannya. Penulis buku sekaligus ibu dari Naya, Dewi Mareta, mengatakan pengalaman anaknya menggunakan talker menjadi titik penting dalam perkembangan komunikasi sehari-hari.
“Terbukanya komunikasi ini merupakan langkah yang sangat berarti dan diharapkan dapat membantu perkembangan positif lainnya,” kata dia.
Penggagas gerakan “Setiap Anak Punya Suara”, Sofia Karina, mengatakan masih banyak masyarakat yang belum memahami bahwa anak autis non-verbal tetap dapat berkomunikasi dengan caranya sendiri.