KEINGINAN makan makanan asin seperti keripik atau gorengan memang biasa terjadi. Namun ternyata, ngidam asin ini bukan hanya sekedar keinginan, tapi sinyal tubuh.
Meski garam (natrium) penting untuk fungsi tubuh, tapi keinginan berlebihan juga bisa berkaitan dengan kondisi tertentu. Apa saja itu? Dilansir dari Health Line, Kamis (30/4/2026), berikut 6 kondisi tubuh yang perlu diwaspadai jika tiba-tiba ngidam makanan asin terus:
Salah satu penyebab paling umum adalah kekurangan cairan. Saat tubuh dehidrasi, keseimbangan elektrolit termasuk natrium bisa terganggu.
Hal ini membuat tubuh “meminta” asupan garam. Gejalanya pun bisa berupa pusing, haus berlebihan, lemas, hingga jarang buang air kecil.
Kondisi ini terjadi ketika kelenjar adrenal tidak memproduksi hormon penting dalam jumlah cukup. Akibatnya, tubuh kehilangan natrium dan memicu keinginan makan asin.
Stres juga bisa memicu craving makanan asin. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa garam dapat memengaruhi pelepasan hormon tertentu di otak yang membuat seseorang merasa lebih “lega” setelah mengonsumsinya.
Pada kondisi ini, tubuh tidak mampu menyerap natrium dengan baik. Akibatnya, natrium banyak terbuang melalui urin, sehingga tubuh terus “meminta” garam.
Penderita kondisi genetik ini kehilangan lebih banyak natrium melalui keringat. Hal ini menyebabkan tubuh membutuhkan asupan garam lebih banyak dibanding orang pada umumnya.
Beberapa orang yang mengalami migrain juga cenderung mengidam makanan asin atau manis. Hal ini diduga berkaitan dengan upaya tubuh meredakan gejala sakit kepala.
Sesekali ngidam asin itu memang hal yang wajar. Namun, jika terjadi terus-menerus dan disertai gejala lain, sebaiknya tidak diabaikan karena bisa menjadi tanda kondisi kesehatan tertentu.
Tubuh sebenarnya hanya membutuhkan sekitar 500 mg natrium per hari, namun kebanyakan orang mengonsumsi jauh lebih banyak dari itu. Organisasi kesehatan pun menyarankan batas konsumsi sekitar 1.500-2.300 mg per hari untuk menjaga kesehatan jantung.
Sehingga, ngidam makanan asin bukan sekadar kebiasaan tapi bisa jadi sinyal tubuh sedang butuh keseimbangan cairan atau bahkan tanda kondisi medis tertentu. Kuncinya adalah memperhatikan frekuensi dan gejala lain yang muncul.
(Djanti Virantika)