Kartini yang Kita Lewatkan

Opini, Jurnalis
Senin 20 April 2026 21:16 WIB
Ilustrasi
Share :

Setiap tanggal 21 April kita memperingati Hari Kartini untuk mengingat semangat perjuangannya, tetapi kerap luput memahami yang paling penting. Ruang publik dipenuhi kebaya, sanggul, dan seremoni yang menghadirkan Raden Ajeng Kartini sebagai simbol budaya yang anggun. Sekilas, semuanya terasa tepat: tradisi dirawat, identitas diteguhkan. Namun, justru di tengah kelengkapan simbol itu, ada kekosongan makna yang jarang dipersoalkan.

Masalahnya tidak terletak pada kebaya, tetapi pada cara kita memaknai Kartini. Ketika peringatan berhenti pada representasi, Kartini perlahan bergeser dari pemikir menjadi ikon. Padahal, yang diperjuangkan bukanlah estetika, melainkan kesadaran.

Dalam bagian pengantar suratnya kepada Estella H. Zeehandelaar (25 Mei 1899), Kartini menulis: “Saya ingin berkenalan dengan seorang gadis modern, yang berani, yang dapat berdiri sendiri... yang selalu bekerja tidak hanya untuk kepentingan dan kebahagiaan dirinya sendiri saja, tetapi juga berjuang untuk masyarakat luas, bekerja demi kebahagiaan banyak sesama manusia." Kutipan ini menunjukkan bahwa modernitas, dalam pandangan Kartini, bukan soal gaya hidup, melainkan sikap etis: keberanian berpikir dan komitmen untuk berkontribusi bagi orang lain.

Di sinilah ironi itu muncul. Semakin meriah simbol dirayakan, semakin kabur gagasan dipahami. Peringatan yang seharusnya menghidupkan pemikiran Kartini justru kerap berhenti pada hal yang paling permukaan.

Merayakan yang Mudah

Budaya publik kita tampaknya memiliki kecenderungan tersendiri dalam merawat tokoh sejarah: menghadirkannya dalam bentuk yang lebih sederhana, lebih rapi, dan tentu saja lebih mudah dirayakan. Kartini pun kerap muncul sebagai figur yang anggun dan harmonis, seolah-olah kegelisahan yang terekam dalam surat-suratnya tidak lagi menjadi bagian penting dari dirinya. 

Padahal, di dalam korespondensi itu tersimpan kritik terhadap feodalisme, praktik pingitan, dan keterbatasan pendidikan bagi perempuan—hal-hal yang tidak selalu nyaman untuk diangkat dalam suasana perayaan.

Sejak publikasi Door Duisternis tot Licht pada 1911—yang kemudian dikenal sebagai Habis Gelap Terbitlah Terang—terlihat jelas bahwa pemikiran Kartini melampaui persoalan personal. Surat-surat tersebut memuat refleksi tentang ketidakadilan sosial yang lebih luas, termasuk struktur feodal dan kolonial yang menghambat kemajuan masyarakat. 

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Women lainnya