Kematian karena Kanker Payudara Ditargetkan Turun 2,5% per Tahun

Mei Sada Sirait, Jurnalis
Senin 02 Maret 2026 08:06 WIB
Kematian Akibat Kanker Payudara Ditargetkan Turun 2,5% per Tahun
Share :

JAKARTA - Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) mendiseminasikan Rencana Aksi Nasional (RAN) Kanker Payudara 2025–2034. Langkah ini merupakan strategi pemerintah untuk mengejar target standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yakni menurunkan angka kematian (mortalitas) akibat kanker payudara sebesar 2,5% setiap tahunnya.

Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono mengatakan terdapat disparitas angka kematian akibat kanker payudara antara negara maju dan berkembang karena perbedaan akses layanan.

“Mortalitas akibat kanker payudara telah menurun di negara berpenghasilan tinggi karena kesadaran untuk deteksi dini dan akses ke pengobatan sudah lebih baik. Sebaliknya, di negara berpenghasilan menengah ke bawah, kematian masih tinggi akibat tantangan dalam akses layanan kesehatan,” tutur Dante, dalam keterangannya seperti dikutip Senin (2/3/2026). 

WHO menetapkan target agar setiap negara dapat menurunkan mortalitas kanker payudara sebesar 2,5% per tahun, termasuk Indonesia. Untuk itu, Kementerian Kesehatan telah menyusun RAN Kanker Payudara Tahun 2025-2034 sebagai panduan bersama untuk bergerak lebih cepat dan terarah.

“Saya harap forum ini tidak berhenti pada diskusi, tetapi dilanjutkan dengan aksi kolaboratif nyata, baik dalam bentuk program, pilot project, maupun dukungan pendanaan. Tujuan utama kita adalah cure (menyembuhkan) dan palliate (meringankan beban),” ujar Dante.

 

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (PTM), Siti Nadia Tarmizi, memaparkan urgensi perbaikan sistem deteksi dini. Data Kemenkes menunjukkan kesenjangan yang signifikan dalam penanganan pasien.

“Dari 14 juta sasaran perempuan, baru 4,1 juta yang menjalani pemeriksaan. Dari jumlah tersebut ditemukan 20 ribu orang dengan kelainan, namun hanya 6.000 orang yang melanjutkan pengobatan, dan hanya separuhnya yang berhasil mencapai akses rumah sakit,” ungkap Nadia.

Nadia menekankan bahwa tantangan utama saat ini adalah keraguan masyarakat untuk memeriksakan diri serta sinkronisasi sistem agar pasien tidak “hilang” di tengah jalan. Oleh karena itu, RAN Kanker Payudara disusun berpedoman pada tiga pilar WHO Global Breast Cancer Initiative.

Deteksi Dini: 60% pasien didiagnosis pada stadium awal (stadium 1 atau 2).
Diagnosis Cepat: Diagnosis ditegakkan dalam waktu 60 hari sejak gejala awal muncul.

Pengobatan Tuntas: Lebih dari 80% pasien menerima terapi multimodalitas (kombinasi operasi, radiasi, kemoterapi, dan lain-lain) hingga selesai.

RAN Kanker Payudara 2025–2034 mencakup lima strategi utama, yakni promosi kesehatan, peningkatan deteksi dini, perluasan akses layanan bermutu, penguatan registrasi kanker, serta koordinasi kemitraan multipihak.

Melalui forum PPCP, pemerintah membuka pintu seluas-luasnya bagi kemitraan inklusif demi mencapai target angka kesintasan (survival rate) lima tahun sebesar 70% bagi pasien kanker payudara di Indonesia.

(Rani Hardjanti)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Women lainnya