Enam tahun kemudian, Benjamin Green, seorang penerbang dan apoteker, memakai zat berminyak red vet pet (petrolatum veteriner merah) untuk melindungi dirinya serta tentara lain dari sinar ultraviolet ketika Perang Dunia II. Kala itu tekstur sunscreen yang dibuatnya cenderung berat dan kental, dilansir dari laman resmi National Library of Medicine.
Seiring berjalannya waktu, Franz Greiter pun mengembangkan sunscreen buatannya. Hingga pada 1946, ia diketahui mulai memasarkan produk glacier cream dengan merek bernama Piz Buin. Pada 1970, merek ini merilis produk sunscreen dengan filter ultraviolet (UV) A serta B untuk publik.
Berlanjut ke delapan tahun kemudian, Food and Drug Administration (FDA) mengusulkan untuk membuat standar sunscreen demi keamanan dan efektivitas. Standar tersebut termasuk penetapan pengujian dan juga pelabelan SPF (Sun Protection Factor). Selanjutnya, pada 1988, FDA menyetujui sunscreen yang mengandung filter khusus UVA dan UVB.
Sunscreen dengan SPF 15 sampai 30 pun mulai dipasarkan ke masyarakat di era 1990-an. Saat ini, sunscreen hadir dengan tekstur yang beragam, mulai dari krim, gel, stick, hingga spray.
(Rizky Pradita Ananda)