Mengenal Sejarah Tabir Surya, Sudah Ada Sejak Sebelum Masehi Loh!

Tika Vidya Utami, Jurnalis
Jum'at 28 April 2023 21:00 WIB
sejarah di balik kehadiran tabir surya, (Foto: Freepik)
Share :

SUHU panas yang melanda sebagian besar wilayah di Indonesia belakangan ini, turut mencuatkan pentingnya penggunaan tabir surya atau sunscreen sebagai salah satu perlindungan menghadapi suhu panas kala beraktivitas di luar rumah.

Ya, tabir surya merupakan salah satu rangkaian perawatan kulit guna melindungi kulit dari sinar ultraviolet (UV). Seiring dengan perkembangan jaman, tabir surya kini sudah semakin berevolusi.

Jika dulu hanya mengandung 25 SPF, lalu meningkat jadi 30 dan sekarang sudah banyak tabir surya dengan 50 SPF untuk melindungi kulit lebih optimal lagi dari kerusakan akibat sinar UV. Bentuknya pun berkembang dari krim tebal, kemudian mulai lebih tipis dan ringan, lalu gel, hingga sekarang sudah berbentuk spray yang lebih praktis.

Nah, tahukah Anda ternyata tabir surya atau sunscreen ternyata punya sejarah yang panjang yang bahkan dimulai pada SM alias sebelum tahun Masehi? Melansir Cosmoderma, Jumat (28/4/2023) pada tahun 4000 SM orang Mesir diketahui sudah memakai ekstrak bekatul, melati, lupin untuk melindungi kulit dari panasnya sinar matahari.

Bahan-bahan ini hadir dengan manfaatnya masing-masing. Bekatul diyakini bisa menyerap sinar ultraviolet, sementara bungan melati bisa membantu memperbaiki DNA, sedangkan lupin dapat membantu untuk mencerahkan kulit.

Jaman berjalan, kemudian padaa 1938, seorang mahasiswa kimia Swiss bernama Franz Greiter mengalami sengatan matahari usai mendaki Gunung Piz Buin. Peristiwa yang dialaminya ini lalu menginspirasinya untuk menciptakan sunscreen atau tabir surya.

Enam tahun kemudian, Benjamin Green, seorang penerbang dan apoteker, memakai zat berminyak red vet pet (petrolatum veteriner merah) untuk melindungi dirinya serta tentara lain dari sinar ultraviolet ketika Perang Dunia II. Kala itu tekstur sunscreen yang dibuatnya cenderung berat dan kental, dilansir dari laman resmi National Library of Medicine.

Seiring berjalannya waktu, Franz Greiter pun mengembangkan sunscreen buatannya. Hingga pada 1946, ia diketahui mulai memasarkan produk glacier cream dengan merek bernama Piz Buin. Pada 1970, merek ini merilis produk sunscreen dengan filter ultraviolet (UV) A serta B untuk publik.

Berlanjut ke delapan tahun kemudian, Food and Drug Administration (FDA) mengusulkan untuk membuat standar sunscreen demi keamanan dan efektivitas. Standar tersebut termasuk penetapan pengujian dan juga pelabelan SPF (Sun Protection Factor). Selanjutnya, pada 1988, FDA menyetujui sunscreen yang mengandung filter khusus UVA dan UVB.

Sunscreen dengan SPF 15 sampai 30 pun mulai dipasarkan ke masyarakat di era 1990-an. Saat ini, sunscreen hadir dengan tekstur yang beragam, mulai dari krim, gel, stick, hingga spray.

(Rizky Pradita Ananda)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita Women lainnya