Di Indonesia, Hari Perempuan Nasional diperingati setiap tanggal 9 Maret. Serupa dengan apa yang terjadi di ranah internasional, pergerakan perempuan di Tanah Air juga sudah terjadi sejak era 1800-an. Salah satu tokoh emansipasi wanita yang paling terkenal adalah Dewi Sartika dan R.A Kartini. Bagi Dewi Sartika, perempuan harus mendapatkan hak setara dengan laki-laki, apalagi jika menyoal tentang pendidikan.
Menurut Jurnal Equalita (2020) berjudul ‘Konsep Pendidikan Bagi Perempuan Menurut Dewi Sartika’, tokoh dengan nama lengkap Raden Dewi Sartika itu berpandangan bahwa pendidikan adalah hal penting yang wajib didapat oleh kaum wanita.
"Sebab, kelak seorang wanita akan mendidik anak-anaknya, yang merupakan generasi penerus bangsa. Bagi seorang Dewi Sartika, pendidikan merupakan alat untuk menata, memajukan, dan mengubah segala hal ke arah yang lebih baik," tulis jurnal tersebut.
Perjuangan serupa juga dilakukan oleh R.A Kartini. Ia terkenal sebagai seorang tokoh yang sangat cinta membaca dan mendorong perempuan untuk mau berpikir secara terbuka dan luas. Meskipun dalam keadaan dipingit, namun Kartini tetap bisa bertukar surat dengan sahabat-sahabat penanya yang ada di Belanda, seperti Rosa Abendanon. Karena banyak berdiskusi dengan perempuan Barat, Kartini menyadari bahwa perempuan Indonesia sering sekali berada di status sosial rendah.
Setelah menikah dengan Raden Adipati Joyodiningrat pada 12 November 1903, Kartini mendapat banyak kebebasan dari suaminya dalam berbagai hal, termasuk mendirikan sekolah khusus perempuan. Hingga kini, nama Dewi Sartika dan R.A Kartini dikenang sebagai pahlawan emansipasi wanita yang sangat berjasa demi setaranya hak-hak antara kaum wanita dengan pria.
(Martin Bagya Kertiyasa)