Sejarah Hari Perempuan Internasional, Mengenang Perjuangan Dewi Sartika dan R.A Kartini

Ajeng Wirachmi, Jurnalis
Rabu 08 Maret 2023 05:34 WIB
Ilustrasi Hari Perempuan Internasional. (Foto: Shutterstock)
Share :

SETIAP tahunnya, masyarakat dunia merayakan Hari Perempuan Internasional pada 8 Maret. Sejarah Hari Perempuan Internasional bisa ditelusuri ke masa sebelum pecahnya Perang Dunia I.

Tepat di tahun 1913, sebuah diskusi menyepakati tanggal 8 Maret sebagai Hari Perempuan Internasional. Kala itu, kampanye tentang perdamaian tengah digencarkan. Jika mengikuti kalender Gregorian, 8 Maret berarti tanggal 23 Februari.

Namun, lambat laun Hari Perempuan Internasional diperingati setiap tanggal 8 Maret, mengikuti penanggalan yang diadopsi secara global. Keputusan peringatan Hari Perempuan Internasional sebenarnya sudah disepakati terlebih dahulu di Kopenhagen, Denmark, pada tahun 1911, tepatnya pada 19 Maret.

Laman resmi IWD (International Woman Day) menyebut, setidaknya ada 1 juta masyarakat, baik itu perempuan maupun laki-laki, yang tumpah ruah ke jalan guna menyuarakan aspirasinya. Pengunjuk rasa meminta adanya kesamaan hak antara perempuan dan laki-laki. Di antaranya, memperbolehkan perempuan untuk bekerja, memegang jabatan di ranah publik, dan mengakhiri segala bentuk diskriminasi.

Namun, 5 hari kemudian terjadi tragedi Triangle Fire di New York. Peristiwa tersebut menyebabkan 140 pekerja wanita tewas, yang didominasi oleh imigran Yahudi dan Italia. Dengan adanya kejadian itu, fokus terhadap pemenuhan hak-hak wanita dan perlindungannya semakin masif disuarakan di seluruh dunia. Terlebih, dalam hal undang-undang ketenagakerjaan.

Jauh sebelum itu, ada banyak negara yang sudah melakukan gerakan perempuan. Salah satunya adalah Amerika Serikat (AS), pada 28 Februari tahun 1908. Tanggal tersebut dijadikan sebagai Hari Perempuan Nasional AS. Sejarah mencatat, para wanita yang bekerja di pabrik garmen di AS melakukan protes sekaligus mogok kerja. Di AS sendiri, perempuan sudah mulai berani mengeluarkan pendapatnya sejak tahun 1848.

Kaum perempuan di AS saat itu dibatasi atau bahkan dilarang berbicara di muka umum. Oleh karena itu, Elizabeth Cady Stanton dan Lucretia Mott mengumpulkan ratusan orang agar hak-haknya sebagai kaum wanita bisa dipenuhi. Mereka menuntut hak sosial, politik, sipil, dan agama untuk kaum wanita di AS. Sejak ditetapkan, peringatan Hari Perempuan Internasional terus dilaksanakan sampai saat ini.

Di Indonesia, Hari Perempuan Nasional diperingati setiap tanggal 9 Maret. Serupa dengan apa yang terjadi di ranah internasional, pergerakan perempuan di Tanah Air juga sudah terjadi sejak era 1800-an. Salah satu tokoh emansipasi wanita yang paling terkenal adalah Dewi Sartika dan R.A Kartini. Bagi Dewi Sartika, perempuan harus mendapatkan hak setara dengan laki-laki, apalagi jika menyoal tentang pendidikan.

Menurut Jurnal Equalita (2020) berjudul ‘Konsep Pendidikan Bagi Perempuan Menurut Dewi Sartika’, tokoh dengan nama lengkap Raden Dewi Sartika itu berpandangan bahwa pendidikan adalah hal penting yang wajib didapat oleh kaum wanita.

"Sebab, kelak seorang wanita akan mendidik anak-anaknya, yang merupakan generasi penerus bangsa. Bagi seorang Dewi Sartika, pendidikan merupakan alat untuk menata, memajukan, dan mengubah segala hal ke arah yang lebih baik," tulis jurnal tersebut.

Perjuangan serupa juga dilakukan oleh R.A Kartini. Ia terkenal sebagai seorang tokoh yang sangat cinta membaca dan mendorong perempuan untuk mau berpikir secara terbuka dan luas. Meskipun dalam keadaan dipingit, namun Kartini tetap bisa bertukar surat dengan sahabat-sahabat penanya yang ada di Belanda, seperti Rosa Abendanon. Karena banyak berdiskusi dengan perempuan Barat, Kartini menyadari bahwa perempuan Indonesia sering sekali berada di status sosial rendah.

Setelah menikah dengan Raden Adipati Joyodiningrat pada 12 November 1903, Kartini mendapat banyak kebebasan dari suaminya dalam berbagai hal, termasuk mendirikan sekolah khusus perempuan. Hingga kini, nama Dewi Sartika dan R.A Kartini dikenang sebagai pahlawan emansipasi wanita yang sangat berjasa demi setaranya hak-hak antara kaum wanita dengan pria.

(Martin Bagya Kertiyasa)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Women lainnya