NIKITA Mirzani mengungkapkan dirinya mengalami pengapuran sendi di area leher, yang membuat dirinya sulit untuk melakukan gerakan simpel sesederhana menoleh.
Pengapuran sendi yang ia alami, mengakibatkan dirinya merasakan nyeri akibat ada tonjolan tulang yang keluar.
“Di leher ada pengapuran, tulangnya keluar nonjol. Iya sakit, enggak bisa noleh ada penyempitan," ujar Nikita pada awak media di Pengadilan Negeri Serang, Banten baru-baru ini.
Mengutip Reumatologi, penyakit pengapuran sendi seperti yang dialami Nikita, dikenal dengan istilah medis osteoartritis, yang umumnya sering dianggap sama dngan pengeroposan tulang atau osteoporosis. Padahal kedua penyakit ini mempunyai gejala dan pengobatan yang sangat berbeda.
Secara umum, jika dilihat secara usia, biasanya di usia 65 tahun banyak orang akan mengalami osteoarthritis, ketika tulang rawan yang menutupi ujung tulang pada persendian rusak dan terjadi pertumbuhan tulang yang berlebihan.
Meskipun osteoartritis (atau OA) lebih umum terjadi seiring bertambahnya usia, tapi ini bukanlah bagian dari proses penuaan yang tak bisa dihindari. Kita bisa mencegah, atau setidaknya mengurangi dampaknya dengan melakukan berbagai tindak pencegahan. Melansir Web MD, Selasa (13/12/2022) berikut empat hal yang bisa dilakukan sebagai pencegahan pengapuran sendi.
1. Kontrol BB: Sebab, obesitas jadi faktor risiko untuk mengalami osteoarthritis. Data dari National Health and Nutrition Examination Survey (NHANES), s, menunjukkan bahwa wanita obesitas hampir empat kali lebih berpeluang mengalami osteoarthritis dibandingkan wanita yang tidak-obesitas. Sama halnya dengan risiko pria obesitas, yang hampir lima kali lebih besar daripada pria non-obesitas.
2. Olahraga: Karena ketika otot-otot yang berada di sepanjang bagian depan paha lemah, merujuk pada penelitian, ini artinya orang tersebut punya risiko lebih besar mengalami osteoarthritis lutut yang menyakitkan.
Maka dari itu, rutinlah olahraga contohnya olahraga untuk memperkuat paha depan, Todd P. Stitik, MD, profesor kedokteran fisik dan rehabilitasi di UMDNJ-New Jersey Medical School, merekomendasikan gerakan isometrik dan slide dinding. Caranya, berdiri dengan punggung menghadap dinding, buka kaki selebar bahu. Kemudian bersandar ke dinding, letakkan kaki di depan sejauh jarak yang Anda bisa dan nyaman. Tekuk lutut, letakkan tangan di pinggang, dan geser dengan tulang belakang, pertahankan kontak dengan dinding hingga Anda mencapai posisi duduk. Ingat! Lutut tidak boleh menekuk lebih dari 90 derajat, kemudian perlahan geser kembali ke posisi semula. Ulangi gerakan ini delapan hingga 10 kali.
3. Hindari cedera: Sebisa mungkin hindari mengalami cedera sendiri, karena jika sudah mengalaminya di usia muda, memang bikin kita rentan osteoartritis pada sendi yang sama saat sudah berusia lebih tua. Merujuk pada studi jangka panjang pada 1.321 lulusan Sekolah Kedokteran Johns Hopkins mendapati kalau orang yang mengalami cedera lutut pada masa remaja atau dewasa muda, tiga kali lebih mungkin kena osteoartritis pada lutut tersebut, dibandingkan kelompok orang tidak mengalami cedera. Orang yang mengalami cedera lutut saat dewasa memiliki risiko osteoartritis sendi lima kali lebih besar.
4. Makan makanan yang tepat: Contohnya Asam lemak omega-3, lemak sehat yang mengurangi peradangan sendi. Sumber asam lemak omega-3 yang baik termasuk minyak ikan dan minyak tumbuhan atau kacang tertentu contohnya kenari, kanola, kedelai, biji rami/biji rami, dan zaitun.
Selain itu, asupan vitamin D yang bisa didapat selain dengan sinar matahari juga dengan suplemen vitamin D serta makanan yang dikonsumsi, contohnya ikan berlemak seperti salmon, mackerel, tuna, sarden, susu dan sereal yang diperkaya vitamin D dan telur.
BACA JUGA:5 Tips Untuk Mengurangi Kebiasaan Ngorok, Salah Satunya Stop Minum Miras dan Merokok!
BACA JUGA:Wajib Baca! Ini 5 Manfaat Tertawa di Pagi Hari untuk Kesehatan
(Rizky Pradita Ananda)