PADA hakikatnya, pasangan suami-istri sebisa mungkin menghindari terjadinya perceraian.
Biasanya selama masalah dalam rumah tangga masih bisa dihadapi dan diperbaiki, perceraian memang bukan jadi pilihan.
Namun, jika prahara rumah tangga begitu berat dan tidak bisa lagi diperbaiki, perceraian seringkali memang merupakan menjadi satu-satunya solusi yang ada dan dianggap lebih baik daripada bertahan.
Namun, faktanya, masih banyak pria atau wanita yang memilih mempertahankan rumah tangganya meskipun hubungan rumah tangga tak lagi sehat.
Sebagai contoh termudah, bagaimana pedangdut Lesti Kejora yang menyebutkan alasan anak sebagai alasannya memaafkan dan mau menerima kembali sang suami, Rizky Billar yang sudah melakukan tindak kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) kepada dirinya baru-baru ini.
Ya, ini menjadi bukti bahwa faktor yang paling umum dijadikan alasan adalah karena anak. Banyak suami atau istri yang merasa, bahwa perceraian bisa mengorbankan anak.
Meski tidak sepenuhnya salah, alasan ini juga tidak sepenuhnya benar. Pasalnya, jika rumah tangga tak lagi sehat, apalagi ada unsur kekerasan di dalamnya, ini justru sangat berpengaruh besar terhadap kesehatan mental anak.
Diungkapkan Psikolog Amanasa Indonesia, Marsha Tengker, alasan mempertahankan rumah tangga yang sudah sangat ‘beracun’ dengan tameng demi anak, justru malah akan membebani anak.
Menurutnya, tidak seperti kedua orangtua, anak ada di posisi tidak bisa memilih untuk memutuskan.